Abu Dzar al-Ghifari r.a. menerangkan bahawa Nabi s.a.w. bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya, ‘Azza wa Jalla, sesungguhnya Dia berfirman:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman kepada diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kamu. Oleh kerana itu, janganlah kamu saling menzalimi.”
“Wahai hamba-Ku, kamu semua tersesat, kecuali yang Ku-beri petunjuk. Oleh kerana itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, nescaya Aku memberikannya kepadamu.”
“Wahai hamba-Ku, kamu semua lapar, kecuali yang Ku-beri makan. Oleh kerana itu, mintalah makan kepada-Ku, nescaya Aku memberikannya kepadamu.”
“Wahai hamba-Ku, kamu semua telanjang, kecuali yang Ku-beri pakaian. Oleh kerana itu, mintalah pakaian kepada-Ku, nescaya Aku memberikannya kepadamu.”
Katakanlah:
Al-Ikhlas: 1-4.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan shaf harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Dalam ayat di atas kita temukan kata shaffa yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, ka’annahum bunyaanun marshush (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).
Amal Yang Paling Dicintai Allah
Benar ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwah apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullag saw. selalu mengingatkan sebelum shalat agar barisan shaf diluruskan. Bahkan Rasulullah saw. tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan shaf benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna soliditas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman.
Dari firman Allah di atas: innallaaha yuhibu nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencitai barisan yang solid. Artinya sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya seahari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengkaitkan cinta-Nya dengan soliditas barisan. Bahwa untuk meraih cinta Allah seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan hanya karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh.
Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka.Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ sekalipun itu sependapat dengan aku.”Imam Syafi’ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Sya’fii menjawab, “Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah.”
Pertama, bahwa dari soliditas akan lahir kekompakan.
Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan ekosistem. Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-harti sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan solid, sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini nampak bahwa soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya. Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja -apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaran-Nya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.
Kedua,
soliditas barisan adalah bagian dari iman.
Ketiga, bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa.
Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh
Pertama, bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik.
Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Bagitu juga dalam dakwah, bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas. Di sini peran tarbiyah dan pembinaan harus dioptimalkan.
Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya.
Artinya bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain. Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi sholeh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal shaleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.
Ketiga, bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun panas atau hujan.
Begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan sebelum ada komando bubar barisan. Itulah rahasia mengapa Allah swt. mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid. Wallahu a’lam bishshawab
http://al-fikrah.net/
Tafsir Surah Al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2}
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6}
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
(1).Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,(2). Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,(
3). Yang menguasai hari pembalasan,(4). Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,
(5). Tunjukilah kami jalan yang lurus,(6). (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat(7)."
Beberapa Penjelasan
Status Surah
A.Surah ini adalah surah Makkiyyah berdasarkan pendapat majority ulama. (Tafsîr al-Baghawiy:1/16; al-Muharrir al-Wajîz:1/61)
B. Nama SurahSurah ini memiliki nama yang banyak sekali dan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungannya, kerana banyak nama menunjukkan kemuliaan si empunya nama itu. Diantara nama-namanya yang masyhur:- Fâtihah al-Kitâb- Ummul Kitâb- Al-Qur`ân al-'Azhîm- Ummul Qur`ân- As-Sab'ul Matsâniy
C. KeutamaannyaSurah ini memiliki keutamaan yang agung dan telah dijelaskan mengenainya oleh banyak hadits, diantaranya:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh 'Ubâdah bin ash-Shâmit dari Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang bersabda,
"Tidak (sah/sempurna) shalat seorang yang tidak membaca Fâtihah al-Kitab (Pembuka Kitabullah, al-Fâtihah)." (Shahîh al-Jâmi', kitab al-Adzân:1/184)
2. Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu, dia berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, 'Aku telah membahagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku dengan dua bahagian; separuhnya untuk-Ku dan separuhnya lagi untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.Bila seorang hamba mengucapkan, 'al-Hamdulillâhi Rabbil 'Alamîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.'. Dan bila dia mengucapkan, 'ar-Rahmânir Rahîm.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.'Dan bila dia mengucapkan, 'Mâliki Yawmid Dîn.' Allah Ta'ala menjawab, 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.' Dan bila dia mengucapkan, 'Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în.' Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah (bahagian) yang diantara-Ku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.' Dan bila dia mengucapkan, 'Ihdinash Shirâthal Mustaqîm Shirâthal Ladzîna An'amta 'alaihim Ghairil Maghdlûbi 'alaihim wa ladl Dlâllîn.'Allah Ta'ala menjawab, 'Inilah yang buat hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR.Muslim)
Dan banyak lagi hadits lainnya yang shahih mengenai keutamaan surah ini.
D. Keutamaan Ucapan " Amîn "Di dalam kitab Shahîh al-Bukhâriy, terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahawasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda,"Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllîn', maka katakanlah 'Amîn', sebab siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosa terdahulu." (HR.al-Bukhâriy)Sedangkan di dalam Shahîh Muslim, disebutkan, "Bila Imam mengucapkan 'Waladl Dlâllin', maka katakanlah 'Amîn', niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu." (HR.Muslim)
E. Membacanya Di Dalam ShalatMembaca al-Fâtihah wajib hukumnya bagi setiap Muslim pada setiap raka'at shalat dan tidak dapat diganti dengan membaca terjemahan atau lainnya.Membacanya adalah termasuk rukun shalat, baik yang fardlu maupun sunnah dan hendaknya bagi makmum pada shalat Jahriyyah (yang dinyaringkan bacaannya), membacanya dengan Sirr (perlahan, tidak nyaring).(Mengenai hukum membaca surah al-Fâtihah dalam shalat ini terdapat perbezaan pendapat di kalangan para ulama-red.,)
F. Makna Kalimat•
"Alhamdu" ertinya sanjungan/pujian atas Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat yang memang Dia layak atasnya.•
"Lillâhi" ertinya Dia-lah Yang dituhankan dan disembah, Yang berhak untuk diesakan di dalam beribadah terhadap-Nya.• "Rabb" ertinya al-Murabbi, yaitu al-Mâlik (Pemilik).
"Rabb" adalah nama dari nama-nama Allah Ta'ala dan penggunaan kata ini di dalam bahasa Arab untuk selain-Nya hanya dalam bentuk Mudhaf, seperti ungkapan, "Rabbud Dâr" (pemilik/tuan rumah), dan sebagainya.
• "al-'Alamîn" ertinya semua yang selain Allah (alam semesta)•
"ar-Rahmânir Rahîm" yaitu dua nama yang menunjukkan bahawa Dia Ta'ala adalah Pemilik rahmat (Maha pengasih) yang amat luas dan agung.
• "Mâliki Yawmid Dîn" yakni hari Kiamat. Dinamakan dengan Yawmud Dîn kerana Allah Ta'ala menyuruh mereka beribadah dengan amal-amal mereka; bila baik, maka baik balasannya dan bila buruk, maka buruk balasannya. Dan makna Mâliki Yawmid Dîn adalah bahawa semua perintah itu adalah hanya untuk Allah dan amat tampak sekali secara sempurna bagi para makhluk kesempurnaan pemilikan-Nya dan terputusnya pemilikan para makhluk.
• "Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în" yakni kita tidak menyembah kecuali Allah semata dan kita tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, sehingga kita mengkhususkannya di dalam beribadah dan meminta pertolongan serta meninggalkan selain-Nya. 'Ibadah adalah sebutan yang mencakupi setiap perkataan, perbuatan lahir dan batin yang dicintai Allah dan diredhai-Nya. Sedangkan erti Isti'ânah (minta tolong) adalah berpegang kepada Allah di dalam mendapatkan manfa'at dan menolak hal yang membahayakan disertai kepercayaan terhadap-Nya di dalam mendapatkan hal itu. sedangkan kenapa 'ibadah didahulukan atas Isti'ânah adalah sebagai bentuk perhatian di dalam mendahulukan hak-Nya di atas hak hamba-Nya.
• "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" yakni tunjukkan dan berilah kami petunjuk serta taufiq. Ash-Shirâth al-Mustaqîm adalah jalan yang jelas dan membawa kepada Allah, yaitu Islam dan jalan orang-orang yang diberi nikmat kepada mereka, yaitu dari kalangan para Nabi, orang-orang yang jujur, syuhada dan orang-orang yang shalih.
• "Ghairil Maghdlûbi 'Alaihim" yaitu orang-orang yang mengenal al-Haq namun meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya.
• "Waladl Dhâllîn" , yaitu orang-orang Nashrani dan siapa saja yang menyembah Allah dalam keadaan jahil dan sesat.
• "Amîn" , ini tidak termasuk ayat dalam surah al-Fâtihah, maknanya adalah Ya Allah, perkenankanlah. Dianjurkan bagi Imam untuk mengucapkannya, demikian juga dengan Makmum dan orang yang shalat sendirian.
Sekalipun surah ini ringkas namun mengandungi hal yang tidak satu surahpun dari surah-surah di dalam al-Qur'an mengandunginya. Ia mengandungi jenis-jenis tauhid; tauhid Rubûbiyyah, yaitu pada firman-Nya "Rabbil 'Alamîn" ;tauhid Ulûhiyyah, yaitu diambil dari lafazh al-Jalâlah "Allâh" dan dari firman-Nya "Iyyâka Na'budu Wa Iyyâka Nasta'în" ; tauhid Asmâ` dan Shifât , yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Dalam hal ini melalui penetapan pujian terhadap-Nya dan hal lainnya.
G. Kandungan Surah
• Penetapan tiga jenis tauhid.
• Penetapan kenabian, yaitu pada firman-Nya "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm" sebab hal ini tidak mungkin dicapai tanpa adanya risalah (kerasulan).
• Penetapan adanya balasan dan hisab terhadap amal-amal, yaitu pada firman-Nya "Mâliki Yawmid Dîn".
• Bahawa shalat yang tidak dibaca di dalamnya surah al-Fâtihah dianggap kurang (Khidâj).
• Surah ini mengandung doa-doa yang paling sempurna dan paling bermanfa'at bagi seorang hamba, yaitu "Ihdinash Shirâthal Mustaqîm". Oleh kerana itu, seseorang wajib berdoa kepada Allah pada setiap raka'at dari shalatnya kerana dia menghajatkan hal itu.
(SUMBER:Silsilah Manâhij Dawrâh al-'Ulûm asy-Syar'iyyah -at-Tafsîr- karya Dr. Ibrâhim bin Sulaiman al-Huwaimil, h.30-35)
Apa yg kurasakan ini
*Mencintai-Mu tak mengenal waktu
Cintaku tak berdusta
Apa yg kurasakan ini
(Repeat *)
Apa yang kurasakan ini
credit goes to ukhti balqis yahya..phoenixrajawali.blogspot.com
atas liriknya..jazakillah
Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
"Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu." (2: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (7: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
"Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
Tidak pernah merusak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.
Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam
(HR Ahmad dan al Hakim)
Luas saujana mata memandang
Bumi menghijau subur di kejauhan
Dengan rasa syukur melangkah
Menjejakkan kaki
Nada ikhlas menyambut
KehadiranPemuda mencari tuhan
Segalanya ada di sini
Bagi yang mencari
makna kalimah zuhud
makna kalimah hubb
makna kalimah tawadhu’
makna kalimah tasawuf
makna kalimah tawakkal
makna kalimah zikr
ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi
Lalu pertanyaan muncul,
Di mana cahaya itu?
Cahaya nur dan fayd sayyidi syeikh yang diwar-warkan
Cahaya atas cahaya
“nur ala nur”
“Min shiddati addhuhur alkhifa’ “
(kerana terlampau cahaya itu, mmelupuskan cahaya sebenar)
Lalu di mana tuhan?
Di mana tuhan pada
Tawakkalnya manusia
Zuhudnya manusia
Tawadhu’nya manusia
Tasawufnya manusia
Pada yang Maha Agung
Atau yang menggagungkan yang Maha Agung
Atau hanya sekadarMencari jalan pintasKe Firdausi rabbi
Apakah ada jalan pintas ke sana?
“Innallahasytara minal mu’minin anfusahum wa amwalahum biannalahumul jannah”
“Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi”
Aku hadir dengan maksud
Memohon jalan menuju Mu
Jalan,tariqah sebenar
Pada mengesakan Engkau
Pada mencariMu, tuhan
Al-atqiyaa al-akhfiya ilallahi azza wa jalla
penulis: muhammad aiman salmi; http://muhammadaimansalmi.blogspot.com/
menjadikan dakwah sebagai laku utama,
Dialah Visi,
Dialah Misi,
Dialah Obsesi,
Dialah yang menggelayuti di setiap desak nafas,
Dialah yang menghantarkan jiwa-jiwa ini kepada Redha dan Maghfirah Tuhanya kelak…
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani
Penghargaan kepada Kumpulan Nasyid Izzatul Islam
Download the song at: http://rs377.rapidshare.com/files/113115957/murobbi.wma

إعمل شيئا للإسلام
Sesungguhnya situasi ini sangat memedihkan bagi hati-hati muslim, yang bekerja untuk agamanya, dan memahami firman Allah
" Allah menjanjikan orang-orang Yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (Wahai umat Muhammad) Bahawa ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah Yang memegang Kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang Yang sebelum mereka: khalifah-khalifah Yang berkuasa; dan ia akan menguatkan dan mengembangkan ugama mereka (ugama Islam) Yang telah diredhaiNya untuk mereka; dan ia juga akan menggantikan bagi mereka keamanan setelah mereka mengalami ketakutan (dari ancaman musuh). mereka terus beribadat kepadaKu Dengan tidak mempersekutukan sesuatu Yang lain denganKu. dan (ingatlah) sesiapa Yang kufur ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang Yang derhaka."
(Al-Nur: 55)
Sampai bila musuh-musuh sentiasa menyembelih, merampas dan membunuh, dan respon kita hanyalah sekadar kutukan-kutukan kemarahan, sedikit sumbangan duit, atau hanyalah mengikuti berita-berita di telivisyen dan surat-surat khabar. Kemudian respon itu pun mereda, dan digantikan dengan futur dan kelemahan, dan kita sekali lagi kembali melakukan kerja-kerja peribadi dan kepada dunia yang fana ini, kepada tidur yang nyenyak. Tidur ini akan berterusan sehinggalah apabila musuh sekali lagi melakukan keganasan, lalu kita sekali lagi respon dengan kemarahan seperti sebelum.. dan begitulah seterusnya.
Kita mesti berfikir! Respon kita mestilah yang berstrategi panjang, strategi yang bertujuan menaikkan kalimah Allah di muka bumi dan memartabatkan islam di seluruh dunia. Ini semua dengan tujuan meraih salah satu dari dua kebaikan, sama ada kemenangan ataupun mat syahid di jalan Allah.
Kita mungkin tertanya-tanya: kenapa semua ini hanya berlaku kepada orang-orang islam?! Jawabannya tentulah lebih diketahui oleh orang-orang islam sendiri sebelum diketahui oleh orang lain. Ini semua adalah kerana mereka telah merendahkan agama mereka, dan keredhaan mereka kepada kehidupan akhirat berbanding akhirat. Orang-orang islam ini menyerah kepada keadaan yang menghina oleh Negara-negara barat, tekanan yang bertujuan menjamin kemaslahatan mereka dan kemaslahatan yahudi semata.
Hasan Al-banna berkata: sesungguhnya umat yang mahir mencipta kematian dan mengetahui bagaimana mati secara mulia, Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan di akhirat. Tiada kelemahan yang telah menghina kita kecuali cinta dunia dan benci mati… Maka siapkan lah diri kamu untuk pekerjaan yang besar, dan sentiasa bersiap untuk mati nescaya kamu akan diberi kehidupan.
Kita harus ketahui bahawa umat islam sekarang hidup dalam suatu kondisi yang paling memalukan sepanjang sejarahnya. Umat ini sangat memerlukan kepada kesatuan saf, mengerahkan tenaga, keikhlasan dalam beramal, kesucian niat, mengumpulkan kemampuan-kemampuan, kekuatan, dan tenaga. Serta memanfaatkan semua itu untuk bersaha keluar dari bencana yang menimpanya. Harus diketahui bahawa umat ini dalam bahaya yang besar jika tidak mendapat perhatian Allah.
Sama-sama kita ingati titah Saidina Umar bin Khattab kepada rakyat Al-Quds sebelum dia kembali ke madinah selepas Islam Berjaya menawan kota itu. “wahai umat islam, sesungguhnya Allah telah menepati janjinya. Dia telah menolong kamu menentang musuh-musuh kamu, mewariskan negeri-negeri ini kepada kamu dan menjadikan kamu berkuasa di mukan bumi. Janganlah kamu membalasnya kecuali dengan kesyukuran. Jauhilah kemaksiatan kerana kemaksiatan ialah kufur dengan nikmat. Tiada suatu kaum yang kufur dengan nikmat kemudian mereka tidak bertaubat, kecuali Allah akan merentap kemuliaan mereka dan menaklukkan musuh ke atas mereka.”
Apakah yang telah kita lakukan untuk menjadikan Allah redha dengan kita? dan seterusnya menguatkan kita, membantu kita, dan mewariskan dunia ini kepada kita agar dunia ini ditadbir dengan keadilan, kasih sayang dan kerahmatan.
Kewajipan yang banyak..
Mari bersama-sama kita mencatit apa yang kita mampu lakukan untuk islam kita, setiap orang sekadar kemampuannya.
Hasan al-Banna telah menyebut banyak kewajipan seorang pemuda islam, yang mampu kita lakukan. Antaranya:
1. Memperbaharui perjanjian dengan Allah azza wajalla untuk kita bekerja unutk islam sehingga berjaya atau beroleh syahadah (syahid)
2. Sentiasa muroqobatullah dan mengikhlaskan niat dalam semua amalan
3. Sentiasa memperbaharui taubat dan istighfar, membebaskan diri dari dosa-dosa kecil lebih-lebih lagi dosa besar, dan bersikap wara’ dalam perkara syubhat supaya tidak terjatuh dalam perkara haram.
4. Memperbaiki bacaan Al-Quran dan mentadabburi makna-maknanya, mengkaji sirah nabi, sejarah-sejarah salaf (orang-orang terdahulu) semampu mungkin. Juga mempelajari asas-asas akidah, cabang-cabang hokum dan rahsia-rahsia syari’ah.
5. Sentiasa melawan nafsu dengan keras agar mudah mengawalnya, menundukkan pandanganmu, dan mengawal perasaan dan syahwat dalam dirimu serta membawanya kepada perkara halal dan menghalanginya dari perkara haram walau sedikit.
6. Memperbaiki solatmu dengan sentiasa menunaikannya di awal waktu di masjid secara berjamaah sekadar kamu mampu.
7. Berpuasa ramadhan dengan sebaiknya.
8. Sentiasalah berdoa dan jadikan lidahmu sentiasa basah dengan zikrullah.
9. Amar makruf dan menegah kemungkaran.
10. Sentiasa berniat untuk berjihad, dan membuat persediaan untuknya semampumu.
11. Membiasakan diri dengan sejenis riadah walaupun berjalan
12. Sentiasa memastikan setiap kerja dilakukan secara sempurna dari segi kualiti, kegigihan , tidak menipu dan menepati waktu.
13. Sentiasa bercakap benar, tidak sekali-kali menipu. Mempunyai kemahuan yang kuat, tidak sekali-kali ragu.. Menepati janji, tidak memungkiri janji dalam apa jua keadaan.
14. Bersikap berani, sanggup menanggung beban. Sebaik-baik keberanian adalah berterus-terang dalam perkara yang hak, menyembunyikan rahsia, mengaku jika tersalah, bersikap adil dan mengawal hati ketika marah.
15. Mendidik anak kamu dengan didikan islam yang benar dan seimbang. Supaya mereka menjadi murni akidahnya, betul ibadahnya, baik akhlaknya, berfikiran luas, kuat badannya, memberi manfaat kepada orang lain, dan menjaga waktu.
16. Memboikot produk-produk amerika dan yahudi. Sebaliknya menyokong produk-produk dan syarikat-syarikat ekonomi orang-orang islam, dan sentiasa memastikan duitmu tidak jatuh kecuali dalam tangan saudaramu walau dalam apa jua keadaan. Janganlah memakai dan makan kecuali dari hasil negeri islam.
17. Kenali musuhmu dan kaji peribadinya sebaik mungkin
18. Sentiasa aktif dan terlatih dalam melakukan khidmat masyarakat, sehingga merasa bahagia jika kamu dapat berkhidmat kepada orang lain, menziarahi pesakit, menenangkan orang susah walau dengan perkataan yang baik, dan sentiasa memberi khidmat dan sumbangan.
19. Jagalah anak yatim, lindungilah perempuan, jalinlah silaturrahmi, maafkanlah orang yang menzalimimu, damaikanlah antara dua pihak, ajarlah orang yang jahil, dan siapkanlah seorang pejuang.
20. Kamu mesti ketahui bagaimana menuntut hak kamu, dan menunaikan hak-hak orang lain dengan sempurna tidak kurang sebelum mereka menuntutnya, dan janganlah melambat bayar hutang.
21. Berusaha sekadar kemampuan untuk menghidupkan budaya-budaya islam dan memerangi budaya luar dalam semua aspek kehidupan contohnya dalam aspek memberi salam, bahasa, sejarah, pakaian, waktu bekerja dan lain-lain.
22. Memberikan sumbangan untuk menyebarkan islam di semua tempat, menunaikan zakat yang wajib dari hartamu, dan mengkhususkan sebahagian untuk peminta sedekah dan orang miskin.
-the pictures was copied from www.daawa.net
Sekali nafas dihela,
belum pasti kan dapat dihirup kembali.
Sekali mata terpejam,
belum pasti kan dapat dibukakan kembali.
Hidup perlukan bahagia.
Bahagia itu indah.
Bahagia itu hidayah.
Bahagia itu cahaya.
Yang bersemi dalam jiwa.
Jiwa itu umpama kamar yang gelap.
Cahaya rembulan takkan menembusi nya,
andai tidak dikuakkan jendelanya.
Jiwa takkan mampu mencapai bahagia,
andai tidak dibukakan jendela hatinya.
Bukakanlah pintu hatimu.
Hayatilah suara hatinya.
Gerakkanlah seluruh anggota tubuhmu,
bertemankan doa...beriramakan suara hati...
Derapkanlah langkahmu,mencari makna disebalik pencarian.
Sekali datang pertolongan dari Nya,
Pasti kau temui cahaya yang indah
yang memancar dihujung pencarian.
Saat itu jiwamu tenang
merasai bahagia berpanjangan.
dengan pancaran cahaya itu
menghiasi sepanjang jalan kehidupan
menuju ke negeri yang abadi
Itulah cahaya 165...
indahnya cahaya itu,
yang menyuluhi perjalananmu,
melangkah ke pintu syurga
Bertemu Yang Maha Penyayang.
MJ Angkatan 12-KL.28 Okt 08 - 12.36am.
sumber:http://www.esq.com.my/
“Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).
Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)
Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab,”Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”
Akar Kemaksiatan
Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah. Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina.
Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibadurrahman,
”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)
Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.
Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu: pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.
Pengaruh Maksiat
Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.
Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:
1. Lalai dan keras hati
Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)
Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”
Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.
2. Terhalang dari ilmu dari rezeki
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.
3. Kematian hati dan kegelapan di wajah
Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”
Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.
Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.
4. Terhalang dari penerapan hukum Allah
Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)
5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan
Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.
Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.
Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”
Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. Waspadalah
“Kami pernah pergi bersama Rasulullah untuk mengantar jenazah. Beliau duduk di atas kuburan dan kami duduk di sebelahnya. Kami diam dan tenang laksana di atas kepala kami terdapat seekor burung. Sambil menguburkan jenazah tersebut, Beliau berkata, “Aku berlindung diri kepada Allah dari siksa kubur.”
Beliau mengucapkannya tiga kali.
Selanjutnya Beliau bersabda,
“Sesungguhnya orang yang beriman jika akan pindah ke alam akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat itu turun kepadanya. Wajah mereka seperti matahari dan setiap dari mereka membawa wewangian dari surga dan kain kafan. Mereka duduk di dekat orang yang beriman sebatas pandangan kemudian malaikat pencabut nyawa duduk di dekat kepalanya dan berkata,
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.”
Rasulullah kemudian bersabda, “Ruh orang beriman pun keluar dari jasadnya seperti halnya air keluar dari mulut teko. Malaikat pencabut nyawa segera mengambilnya. Ketika ruh orang itu telah berada dalam genggamannya, para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh orang beriman itu berada di tangan malaikat pencabut nyawa sekejap mata hingga kemudian mereka mengambilnya dan menaruhnya di atas kain kafan surga dan wewangian tersebut. Dari ruh orang beriman, keluarlah wewangian paling harum yang pernah ada di bumi.”
Kata Rasulullah selanjutnya, “Kemudian para malaikat naik membawa ruh orang beriman dan setiap kali mereka melewati para malaikat, maka mereka bertanya, “Ruh siapa yang harum ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” sembari menyebutkan nama terbaik yang pernah menjadi sebutannya ketika di dunia hingga kemudian mereka berhenti di langit kedua. Mereka minta dibukakan bagi ruh tersebut kemudian dibukakanlah untuknya. Ruh tersebut disambut seluruh makhluk di langit kedua dan mereka mendekatkan ruh tersebut ke langit berikutnya hingga mereka membawa ruh itu tiba di langit di mana Allah berada. Allah kemudian berfirman, “Tuliskan kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi. Sebab, dari bumi itulah Kami menciptakan mereka, ke dalamnya Kami kembalikan mereka, dan darinya pula Kami keluarkan mereka sekali lagi.”
Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Dan sesungguhnya orang kafir itu jika meninggal dunia menuju ke akhirat, maka para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah yang hitam dan membawa kain kafan kasar, lalu duduk di dekatnya sebatas pandangan.
Malaikat pencabut nyawa datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya lantas berkata, “Wahai ruh yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah!” Lalu ruhnya berpisah dari jasadnya dan malaikat mencabutnya seperti mencabut besi pembakar dari wol yang basah. Selanjutnya malaikat pencabut nyawa mengambilnya dan jika sudah ia ambil, maka para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh tersebut di tangannya sekejap mata hingga kemudian mereka meletakkannya di dalam kain kasar tersebut. Dari padanya keluar bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi.
Para malaikat membawanya naik dan setiap kali mereka melewati malaikat, mereka bertanya, “Ruh busuk siapa ini?”
Para malaikat menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” sembari menyebutkan sejelek-jeleknya nama yang dialamatkan kepadanya ketika di dunia. Ruh itu terus dibawa naik hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar pintu langit itu dibuka, namun tidak juga dibukakan untuknya.
Kemudian Beliau membacakan firman Allah swt., “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (Al-A’raf: 40).
Allah swt. kemudian berkata, “Tuliskan kitabnya di Sijjin, di bumi yang terbawah!” Lalu ruh tersebut dilemparkan begitu saja. Selanjutnya Rasulullah membacakan firman Allah, “Barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj: 31) [Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/287 dan 295) dan Abu Dawud (4753)]




p/s: Syukran Jazilan kpd photographer akhil habib khairul rusydi bin mohd nor @ ayoi..Barakallaufika:)
tetapi berusaha mencetus MAHU,
agar bergerak menuju MAMPU.
Pencerahan bukanlah pada mengumpul pengetahuan,
tetapi keupayaan untuk membuka jalan...
kembara insan mencari Tuhan"
Abu Saif ~http://saifulislam.com/
Terima kasih ya Allah,,Kau benarkan lidah kami yang kotor..penuh dusta,,penuh noda dan dosa..Kau masih benarkan kami untuk menyebut namamu Ya Rahman..Ya Rahim..
Teman-teman sekalian..mari kita berfikir sejenak..
Mari kita semua..pada saat ini..tika ini..mari kita letakkan tangan kita di dada kita.Dengarkan iramanya..Rasakan degupannya…Dan tanyakanlah pada diri..selama ini dari mana datangnya kuasa untuk mendegupkan jantung kita?,,Selama ini..selama kita hidup..pernahkah dalam sedetik kita mampu mengawal denyutan jantung kita..? Lalu..persoalannya siapakah di sebalik degupan ini..yang dengan degupan inilah kita mampu hidup..mampu bercanda,berusaha,berkehidupan,bersilaturrahim…SIAPA?
Lalu..teruslah kita bertanya.SIAPA AKU SEBENARNYA? SIAPA DI SEBALIK DEGUPAN INI?..Mungkin kita punya jawapan..akulah Ahmad,,aku mahasiswa..terus tanyakan pada diri..siapakah aku 20 thn yang lalu?..20 tahun yang lalu aku bukan mahasiswa..waktu itu aku seorang bayi yang bernama Ahmad…lalu.tanyakan lagi..siapa aku 30 tahun yang lalu..40 tahun yang lalu..80 tahun yang lalu?..Dari mana asalku sesungguhnya? 80 tahun yang lepas aku x pernah ada..bahkan kedua ibu-bapaku juga masih remaja..lalu,,siapa sebenarnya aku? Dari mana asalku?
Bingung bukan? Ya..bagi yang Muslim mungkin anda punya jawapan..pasti anda kan menjawab Allah lah di balik degupan jantung ini..Aku adalah hamba Allah..Asalku dari alam roh..Ya…ini semua jawapan yang teman-teman dapatkan dari Al-Quran bukan?
BAYANGKAN..jika hidup ini x pernah di turunkan Al-Quran..lalu bagaimana hidup kita? Mampukah kita mampu menjawab segala persoalan dasar ini? SIAPA AKU? SIAPA DI BALIK DEGUPAN JANTUNG YANG MEMBERI AKU KEHIDUPAN SELAMA INI? DARI MANA ASALKU? KE MANA AKU AKAN KEMBALI?
Justeru..teman2..fikirkanlah sejenak.Alangkah sayang dan kasihnya Allah pada kita.Sesudah dia menciptakan kita dari ketiadaan..lantas tidk pernah sedetik Dia meninngalkan kita..Jantung kita terus berdegup..kita mampu terus hidup...Lantas Allah..dengan penuh rasa cinta anugerahi kita dgn KalamNya..Al-Quranul Karim..agar dengan adanya kitab ini..kita tidak terus bingung mencari jawapan..dengan kitab ini kita temukan jawapannya..siapa aku?dari mana asalku? Mau ke mana aku sesungguhnya? Siapa yang memelihara dan menjaga aku selama ini sesungguhnya?
Lalu apa kesimpulannnya?
Teman-teman..telah saya buktikan tadi..dari persoalan yang mendasari kehidupan manusia..bahawa sesungguhnya Al-Quran punya jawapan bagi semua persoalan itu..
Justeru..bukankah Al-Quran ini petunjuk? Penuh dgn jawapan dan tatacara kehidupan..
Ya..AlQuran inilah yang akan menemukan diri kita sesungguhnya..AlQuran inilah yang akan membawa kita mengenal Pencipta kita..Al-Khaliq..Alquran inilah yang akan menunjukkan kita bagaimana caranya untuk sukses dalam seluruh kehidupan kita..Apa buktinya? Kerana ia datang dari Dia yang punya langit yang tujuh, Arasy yang luas, bumi yang terhampar indah…dan matahari yang memberikan cahaya..Lalu..jika Dia begitu sukses mentadbir seluruh alam ini..tidakkah mustahil bagi dia untuk memberi kita petunjuk atau sistem hidup untuk kita berjaya..?
Fikirkanlah sejenak teman2..Lalu di mana selama ini kita letakkan Quran kita..Adakah begitu tinggi di atas almari hingga kita x mampu mengambilnya..Ataupun.ia begitu tinggi kedudukannya dalam hati kita..yang dengannyalah kita merujuk segala-galanya..Sudah berapa banyak malam yang berlalu oleh kita..sudah berapa banyak oksigen yang kita sedut..lalu di mana kalam tuhan kita yang mengurniakan semua ini? Fikirkanlah teman-teman..saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah dgn nikmat Iman dan Islam..Fikirkanlah firman Tuhanmu ini..
“Bukankah pernah datang pada manusia suatu waktu dari masa, yang ketika itu,manusia itu x pernah wujud, x pernah di sebut..x pernah di kenal..Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur (benih lelaki dan wanita) yang kami hendak mengujinya (dgn perintah dan larangan), keran itu kami jadikan dia mendengar dan melihat..sungguh Kami telah menunjukkan padanya Jalan Yang Lurus, ADA YANG BERSYUKUR DAN ADA PULA YANG KUFUR”
(Al-Insan:1-3)
“Alif..Lam..Miim..Kitab(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya;PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa.Iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib,yang mendirikan solat,dan menginfaqkan sebahagian rezeki yang kami berikan pada mereka.dan mereka yang beriman kepada Al-Quran, yang di turunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah di turunkan sebelum engkau..dan mereka yakin akan adanya hari akhirat..MEREKALAH YANG MENDAPAT PETUNJUK DARI TUHANNYA, DAN MEREKALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG.” (Al-Baqarah:1-5)
Teman-teman..jika kita ingin berbuat dosa..ingatlah pada jantung kita yang terus berdegup..dgn perintah Ar-Rahim..jantung itu terus patuh.taat..pada DIa yang menciptakannya..Lalu,bagaimana mungkin kita yang hanya meminjam jantung itu..lantas mengingkariNYa..Ayuh..kita kembali pada Allah sama-sama..Istighfar.. Astaghfirullahal Azhim..
tuntunilah kami Ya Hadi..
Suciknlah hati kami dr riya’,u’jub,prasangka negatif dan segala kekotoran yang membelenggu hati kami Ya Quddus kau Yang Maha Suci.
Kami sedar bahawa hati kami pnuh dgn kotoran Ya Allah
Mana mungkin Kau Yang Maha Suci kn menempati hati yang kotor ini.penuh khilaf,penuh dosa..hingga hati kami hitam..hingga tiada lagi cahaya dariMu Ya Nur.
Hingga sirna hati ini dari rasa cinta padaMu..rasa rindu padaMU..Ya Ilahi..
demiMu Ya Ghaffar, sungguh kami telah menzhailimi diri kami diri sendiri..
sudah terlalu banyak dosa yang kami lakukan dalam keadaan sedar.
dosa yang kami lakukan dalam diam..dalam sendirian..dalam x sedar
Ya Rauf , alangkah malunya kami padaMu..
kami berlaku dosa secara terang-terang padaMU
Ya Bashir…Sungguh Kau menatap kami tika kami meninggalkanMU..
kau mengetahui hati ini yang berbisik dgn prasangka negatif,u’jub, ria’,takabbur dan banyak lagi kehinaan yang kami lakukan padaMu Ya Khabir..
Kau tetap sayang dan cinta pada kami Ya Rahman Ya Rahim.
.X pernah dalam sesaat Kau halang kami dari menghirup oksigen yang menghidupkan kami dgn izinMu ..
Ya Hayyu..x pernah sedetik kau memerintahkan sang matahari untuk tidak terus menerangi kami
Ya Nur..terus hari demi hari berlalu kau degupkan jantung kami..
Ya Rahim..kau alirkan darah kami Ya Lathif..
Ya Rahman..alangkah cintanya kau pada kami ya Allah..alangkah sayangnya kau pada kami..hambamu yang hina..banyak berpaling dariMu..
AMPUNI KAMI YA RAUF..jika selama ini hati kami x pernah terbit cinta padaMU...
hinanya kami
Ya Allah..kami mencari cinta manusia yang kotor dan meninggalkan cintaMu yang suci
Ya Wadud..Ya Ilahi…hati ini,jiwa ini,tubuh,perasaan ini,derap langkah ini,bicara ini,tulisan ini..
SEMUANYA MILIKMU YA ALLAH..
sungguh daku x layak untuk berbicara tentangMu..sedangkan lidah ini penuh dgn dusta..hati ini kosong darimu
Ya Allah..Namun..terima kasih Ya Allah..Kau izinkan lidah kami yang kotor ini untuk menyebut,memuja dan memuji namaMu Yang Maha Indah..
Terima Kasih Ya Allah Kau pilih kami unuk menerima Iman,Islam dan Ihsan..
Terima Kasih Ya Allah..hambaMu yang hina dina ini..Kau pilih untuk menyebarkan risalahMu Ya Allah..sungguh kami hina
kami x pernah punya daya dan upaya untuk meneruskan perjuangan suci kekasihmu Muhammad SAW..
Ya A’lim..sampaikanlah salam rindu dan cinta kami pada Rasul kami,tuntunan kami..Muhammad SAW..kami x pernah berjumpa dgnnya
YA Allah yang menyampaikan risalah ini pada kami..yang membawa kami mengenalMu...
x pernah menatapMu Ya Badi’..
Ya Allah.dgn penuh rasa hina..rasa x layak diri ini..
rasa rendah diri..
kami pohon padaMu Ya Sami’..
kau himpunlah kami di syurgaMu sebagaimana kau himpunkan kami di dunia ini.
.Ya Jami’..
Ya Ilahi..
kami x pernah layak untuk syurgaMu ya Allah.
bagaimana mungkin kami layak memohon syurgaMu....
CintaMU..
Namun Ya Allah,kami x sanggup dengan seksaan nerakaMU Ya MunTaqim..
kami x sanggup jika kami x di pilih untuk berjumpa dgnMu Ya Majid..
Ya Karim..kau yang memelihara kami selama ini Ya Hafizh..
Kau yang menciptakan kami dari setetes mani yang hina Ya Khaliq..
temukanlah kami dgnMu Ya Allah Ya Rahim..
temukanlah kami dgn Rasul kami Muhammad SAW.
.ampunilah kami yang lemah ini..ampunilah kami,ibu-ayah,abang2 dan kakak2 kami,guru2 kami,teman2 kami,mereka yang punya hak terhadap kami,dan semua ummat manusia ini YA Rahim..
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada TuhanMu, dgn penuh keredhaan padaNya, dan keredhaanNya padaMU..maka masuklah kau pada hambaku,dan masuklah ke dalam syurgaKu” (Al-Fajr)
Teman-teman..saudara-saudaraku yang di kasihi..
kita pernah berkumpul bersama..menyatakan kesaksian Tuhan kita ialah Allah..
atas dasar ini..saya..saudaramu pinta dgn penuh rasa cinta dan kemaafan jika punya khilaf.marilah kita kembali pada Allah.
.marilah kita membenarkan penyaksian (syahadatain) kita..agar tiada satu pun di kalangan kita semua yang tercicir dari berjumpa dgn dia yang sesungguhnya selama ini memelihara kita, mencipta, dan menyintai kita..Dialah ALLAH..Dialah Al-Hafizh..Dialah Al-Khaliq..dan Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim..
teman..saudara-saudaraku..yang berkunjung ke halaman saya ini..
demi Allah,jika punya secebis kebaikan yang teman-teman dapatkan dari perkongsian saya..DEmi Allah..segala puji itu hanya milik Allah..s
egala kebaikan dan keindahan adalah daripadaNYA Al-Wadud…dan saya yang lemah,kotor,berdosa dan hina inilah yang mencacatkan perkongsian ini..
maafi saya,lantaran dosa-dosa saya jika tulisan-tulisan saya ini x punya makna pada teman-teman.
mohon doanya semua teman2 saudara2ku..agar Allah memelihara saya,keluarga saya dan rakan seperjuangan saya agar terus di pelihara Allah dalam dakapan cintaNYA..
dalam meyebarkan risalah ini..mohon doanya juga agar kami kan terus ikhlas dan bertaqwa pada Allah..
Doa saya juga beserta kalian..
Saudara-saudaraku yang teramat mulia di sisi Allah…
semoga kita semua kan beroleh rahmatNYa.cinta padaNYa..
dan di kumpulkan bersama2 dgn DIA yang hakikatnya kita rindukan selama ini..
..kabulkanlah permohonan kami Ya Mujib..
dakwatuna.com - “Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.” (Al-Baihaqi)
Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.
Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siraman
Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah bisa lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengokohkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan memproduksi buah.
Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar.
Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.
Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“
Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (Bukhari dan Muslim)
Siapapun kita, ada masa lengahnya
Manusia bukan makhluk tanpa khilaf dan dosa. Selalu saja ada lupa. Ketika ruhani dan jasad berjalan tidak seimbang, di situlah berbagai kealpaan terjadi. Saat itulah, pengawasan terhadap nafsu menjadi lemah.
Imam Ghazali mengumpamakan nafsu seperti anak kecil. Apa saja ingin diraih dan dikuasai. Ia akan terus menuntut. Jika dituruti, nafsu tidak akan pernah berhenti.
Pada titik tertentu, nafsu bisa menjadi dominan. Bahkan sangat dominan. Nafsu pun akhirnya memegang kendali hidup seseorang. Nalar dan hatinya menjadi lumpuh. Saat itu, seorang manusia sedang menuhankan nafsunya.
Allah swt. berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.” (Al-Jatsiyah: 23)
Seburuk apapun seorang muslim, ada pintu kebaikannya
Seperti halnya manusia lain, seorang muslim pun punya nafsu. Bedanya, nafsu orang yang beriman lebih terkendali dan terawat. Namun, kelengahan bisa memberikan peluang buat nafsu untuk bisa tampil dominan. Dan seorang hamba Allah pun melakukan dosa.
Dosa buat seorang mukmin seperti kotoran busuk. Dan shalat serta istighfar adalah di antara pencuci. Kian banyak upaya pencucian, kotoran pun bisa lenyap: warna dan baunya.
Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 133 hingga135. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa….Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu, memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“
Khilaf buat hamba Allah seperti mata air yang tersumbat. Dan zikrullah adalah pengangkat sumbat. Ketika zikrullah terlantun dan tersiram dalam hati, air jernih pun mengalir, menyegarkan wadah hati yang pernah kering.
Sekecil Apapun kebaikan dan keburukan, ada ganjarannya
Satu hal yang bisa menyegarkan kesadaran ruhani adalah pemahaman bahwa apa pun yang dilakukan manusia akan punya balasan. Di dunia dan akhirat. Dan di akhirat ada balasan yang jauh lebih dahsyat.
Firman Allah swt., “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zilzaal: 7-8)
Pemahaman inilah yang senantiasa membimbing hamba Allah untuk senantiasa beramal. Keimanannya terpancar melalui perbuatan nyata. Lantunan zikirnya hidup dalam segala keadaan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191)
bila feel makin hilang..
cinta makin kelam...
entah....
mungkin cinta yang dikurniaiNya..
lantas di noda..
di noda dgn cinta hina...
dgn maksiat yang bermaharajalela...
biarpun mungkin...
masih punya agama....
ya...
masih solat,puasa,tilawah..
tapi ianya seperti sekadar ritual sahaja..
kerna hati yang suci itu telah teroda..
Tapi....
Hati terus mencari cinta...
Jiwa yang hampa...
Terus menerus mendamba syurga...
Rugilah nafas ini...
Bila tiba akhirnya...
tatkala jiwa kelam dgn cinta dunia...
sirna dari cintaNya...
Akhi yang dicintai...
Ingatlah..
Di mana saja kau rundukkan wajahmu...
Di situ ada wajah Allah...
Selalulah pelihara mata hati...
Kerna Dia Yang Maha Teliti...
Senantiasa memerhati...
Akhi...
Bila kau terasa jauh dari Tuhanmu...
dengarkanlah jantunmu yang berdegup kencang...
darahmu yang mengalir deras...
nafasmu yang menghela panjang...
Pada Allah mereka semua bersujud...
Bertasbih..tunduk dan patuh..
Jangan pernah kau berani...
khianat sujud,tasbih mereka...
kerna kau adalah wakil Allah sebenarnya....
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu,berbicara kepada sekalian malaikat..Sesungguhnya Aku ingin menjadikan di muka bumi Khalifah....."
Cinta yang takkan pudar..
Terus menyinar menerangi alam buana..
Cinta yang pengakhiraNnya adalah pertemuan dgnNya..
Kelak, di puncak singgahsana..
Syurga namanya..
dan Jiwa....
Jiwa terus meronta merindu syurga...
Ini tak kena..
Itu tak kena..
ku cari harta..
Harta kan hilang...
Ku cari jawatan...
Jawatan kn penuh dgn bebanan..
Wanita? Keluarga?'...
Ah..
Semua tu kan binasa..
Ibuku,ayahku.temanku...
biar betapa cintanya mereka padaku..
Biar betapa dalamnya kasih mereka padaku..
Tapi semuanya..
Semuanya kan binasa...
Mnuju kepada RibaanNya..
Pemilik setiap jiwa..
Peniup segenap cinta...
Langkahku..bicaraku..Lirik mataku..
Segalanya punya Dia..
Lantas...
Ku pohon pada Kau..
Yang Maha Kuasa..
Agar stiap degup jantung yang Kau degupkan..
Setiap darah yang kau alirkan...
Setiap nafas yang kau Izinkan..
Yang dgn semua ini...
aku mampu bercanda..
mampu merasa...
mampu mengungkap cinta...
Ya Allah.. Ya Rahman..
Izinkanlah....
stiap degupan jantungku..
Setiap hela nafasku..
setiap madah bicaraku..
setiap gerak langkahku..
segenap curahan fikiranku..
semuanya Ya Allah..
Kau bimbinglah ia..
Jadikan segalaNya sebagai Tasbihku padaMu..
Semuanya sebagai Sujud sembahku padaMu..
kerna dakulah hamba..
yang tidak pernah punya apa..
daku hamba...
yang senantiasa kegersangan cinta..
Duhai..
Kau yang memiliki alam buana..
Duhai...
Kau yang memiliki segenap jiwa..
Izinkanlah...
Izinkanlah Ya Rabb..
Selagi nafas masih tersisa..
Selagi hati punya rasa..
Selagi jiwa mencari cinta...
Izinkanlah daku hambamu..
Untuk mendamba KasihMu Tuhan..
Kerna Kaulah Yang Maha Pengasih..
Izinkanlah daku hambamu..
Untuk merindu belaianMu Tuhan..
Kerna kaulah Yang Maha Penyayang..
Izinkanlah daku hambamu..
untuk memuji,bersujud,bertasbih..
padaMu...
Kerna Kaulah..
Sang Pemilik Cinta...