Romantika Yusuf A'laihiSalaam
9:44 AM | Author: Ibnu Siddique

Bismillahirrahmanirrahim.


Namanya Ra’il binti Ra’ayil atau Ra’el binti Ra’ael. Nama ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Muhammad bin Ishaq. Sementara namanya yang lain bersumber dari riwayat Abu Asy Syaikh dari Syu’aib Al Juba’i.Kebanyakan dari kita lebih memaklumi dan maa’ruf akan namanya sebagai Zulaikha.Sedangkan kebanyakan ulama’ yang berhati-hati lebih suka menyebutnya seperti yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an: Imra’atul Aziz.Maka, izinkan saya kali ini menggunakan nama menurut versi Quran itu, Imra’atul Aziz.


Imraatul Aziz…Seorang wanita yang sangat cantik dan merupakan ibu angkat dari Yusuf muda. Ia adalah seorang isteri Menteri Kewangan di negara Mesir kala itu. Seorang istri yang kesepian karena bersuamikan seorang lelaki yang mandul yang tidak pernah menggaulinya. Tidak pernah memberikan haknya sebagai seorang istri berupa keperluan biologi. Kebutuhan rohani untuk meredam gejolak syahwatnya.Anda boleh membayangkan,betapa tersiksanya bathin jelitawan muda ini.

Maka, mendapati seorang pemuda berwajah tampan yang ketampanannya merupakan ketampanan setengah lelaki di bumi, Imraatul Aziz pun tergetar hatinya. Interaksi yang kerap di dalam rumah dengan lawan jenis,tanpa sedar terus memunculkan syaitan di dalam dirinya. Mulailah timbul benih ketertarikan di dalam diri Imraatul Aziz terhadap Yusuf yang tampan. Padahal suaminya telah berpesan agar ia menjaganya sebagai seorang putra.


Imraatul Aziz yang dibakar nafsu menyusun rencana keji kepada Yusuf muda. Ia pun menutup pintu-pintu di dalam rumahnya hingga hanya menyisakan dirinya dan Yusuf berdua. Tidak ada yang melihat mereka kecuali Allah. Seorang perempuan cantik dan lelaki tampan di dalam sebuah ruang tertutup. Syaitan semakin membakar birahi wanita muda itu.


“Wa qalaat haitaa lak…
Marilah ke mari, aku bersedia untukmu". !” ajak Imraatul Aziz kepada Yusuf (Yusuf: 23)


Beginilah yang di rakamkan Al-quran.Ajakan yang bukan sekadar memanggil untuk mendekat.Namun, ‘haita lak’ merupakan nada panggilan manja penuh berahi,yang lazim di lafazkan oleh wanita Arab kepada suami mereka,untuk mengajak bersama.Dalam konteks ini,kita melihat betapa Imraatul Aziz itu,begitu berahi memberi isyarat kepada Yusuf untuk melakukan perbuatan keji, persetubuhan, perzinaan. Ini merupakan puncak keganasan syaitan di dalam diri Imraatul Aziz. Selama ini pun ia telah berusaha untuk menundukkan Yusuf agar mau menjamahnya. Ia menggunakan ajakan dan rayuan yang halus. Namun, hari ini ia menggunakan cara yang kasar dan terang-terangan agar Yusuf mau menjadi budak nafsunya. Yusuf pun menolak dengan menjawab "Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu) sesungguhnya Tuhanku telah memeliharaku dengan sebaik-baiknya sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan berjaya".


Di sini Imraatul Aziz bermaksud untuk mengajak Yusuf untuk menjamahnya. Dan Yusuf pun sebagai seorang lelaki muda sempat terbesit dalam pikirannya untuk menerima ajakan syaitan berwujud perempuan manis di depannya itu


“Sesungguhnya,” kata Allah dalam Surat Yusuf ayat 24, “Perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya…”


“Nafsunya (Yusuf),” kata Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf, “Juga mempunyai kecenderungan dan memiliki ketertarikan kepadanya sebagai hasrat orang muda yang mirip dengan kemahuan dan keinginan terhadapnya, sebagaimana hal ini adakalanya tergambar dalam kondisi dimana yang bersangkutan hilang akalnya.”


“Akan tetapi,” lanjutnya menjelaskan, “Yusuf mematahkan dan menolak hal ini dengan melihat keterangan Tuhannya yang ditetapkan terhadap orang-orang mukallaf, bahwa mereka diwajibkan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Kalau bukan karena kecenderungan yang kuat yang disebut dengan hamm (kehendak), niscaya yang bersangkutan tidak akan dipuji oleh Allah ketika menjauhinya.”


Kita berhenti sejenak dari kisah ini.Mari kita meneguk keindahan pesan Ilaahi yang bisa kita perolehi dari kisah inspiratif ini.Pesan buat diri saya,dan kita semua.


Pertamanya,kita belajar dari Imraatul Aziz.Betapa,dalam kondisi syahwat sebegitu,dia masih mempunyai rasa malu tika di kuasai nafsu untuk berbuat dosa.Sehinggakan,ada tafsir yang menyebut bahawa,lantaran masih ada sikap malu wanita ini saat di puncak gejolak nafsunya,maka Allah tidak merakamkan namanya secara langsung dalam Quran.Seperti inilah,kita belajar dari mafhum sabda Baginda Nabi,bahawa tatkala kita menutup aib seorang Muslim,atau masih punya rasa malu tika melakukan dosa-dosa,tanpa punya rasa bangga sezarah pun akan dosa-dosa itu,kelak Allah SWT kan menutupi segala aib kita.Sungguh,Dialah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Di sinilah pesan penting kepada kita.Betapa jauhnya para remaja kita dari petunjuk Ilaahi.Para remaja yang begitu bangga merakamkan adegan ghairah mereka,kemudian meng’upload’nya pada facebook.Adik-adik remaja perempuan yang memaparkan gambar-gambar dengan posing yang begitu mengujakan nafsu dan menguji iman para lelaki.Tanpa sedar,gambar itu menjadi ajakan zina yang semakin mendekati nada waqaalat haita lak..

Wahai para wanita,pagarilah dirimu dengan sifat malu.Usahlah terus menggoda iman dan mengujakan nafsu para lelaki dengan gambar dirimu yang begitu terdedah.Sedarilah,bahawa saat nafsunya lelaki merajai diri,maka dirinya akan berubah menjadi seperti seekor serigala buas yang akan menerkam buruannya pada bila-bila masa.

Keduanya,kita belajar dari Nabi Yusuf A.S.Seorang pemuda tampan,yang menjadi igauan seluruh wanita Mesir.Betapa,beliau juga seorang lelaki yang punya kecenderungan dan ketertarikan terhadap lawan jenis.Namun,Subhanallah,lantaran kekuatan Iman yang tertancap dalam hatinya,sedang dalam keadaan penuh godaan itu,lantas beliau mengucapkan“maa’za Allah..Aku berlindung dan berpegang pada pada Allah”. Subhnallah..jiwa yang terus saja tersentak untuk mengingati Allah,saat di puncak godaan..Ia adalah hasil dari didikan ruhiyah yang berterusan,yang melahirkan sentakan-sentakan iman.


Kita telusuri kisah Yusuf AS sejak dari kecil.Beliau adalah seorang anaknya Nabi Yaaqub AS.Seorang anak yang membesar dengan didikan iman sejak kecil. Dari sinilah kita belajar.Bagaimana berleluasanya masalah sosial hari ini,adalah punca utamanya kerna kurangnya didikan-didikan Iman sejak kecil pada jiwa generasi kini.Para ibu-bapa yang begitu tersibukkan untuk memenuhi kebutuhan materi,sehingga tanpa sedar meninggalkan lompong yang sangat besar pada sisi ruhani anak-anak.Sehingga anak-anak itu membesar,tanpa keImanan pada Allah yang menancap dalam hati.Anak-anak kecil ini,di sajikan dengan program hiburan melampau.Di pertontonkan adegan tari menari,adegan romantis di televisyen,membaca novel-novel cinta remaja.Di perdengarkan dengan lagu-lagu yang memuja dan memuji berahi,nafsu (dengarkan saja lagu Justin Bieber,dll).Sehingga,potensi fitrah yang di bekali Allah sejak lahirnya,kian tercemari dan ternodai.Sehingga,tatkala datangnya kepada mereka dengan godaan-godaan yang begitu banyak, terdedahnya mereka dengan pergaulan bebas di luar dan secara online.Lantaran,tiada didikan iman sejak kecil,hatinya langsung tidak melahirkan sentakan-sentakan iman.Perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat itu pun di lakukakan tanpa ada rasa segan,lalu perlahan-lahan mencampakkan diri mereka ke dalam kebinasaan.Dengaralah wahai para ibu-bapa.Lihatlah,betapa besarnya peran ibu-bapa dalam melahirkan rumah tangga yang membajai jiwa anak-anak kecil penuh fitrah dengan iman dan taqwa.Inilah rahsia kejayaan dunia akhirat.Anak-anak inilah yang kan menjadi hartamu yang paling bernilai di sisi Allah kelak.Kereta mewah,mahligai,dan wang ringgit yang di kumpul tidak akan memanfaatkan sedikit pun di hadapan Allah,melainkan mereka yang menginfaqkannya.Sebaliknya,anak-anak yang di bajai dengan iman dan taqwa sejak kecil inilah,yang akan tumbuh membesar menjadi para pemuda yang sentiasa mengucapkan “ Inni maa’dza Allah…sesungguhnya aku berlindung dan berpegang teguh pada Allah”


Ketiganya,dan terpaling penting,adalah pelajaran untuk diri saya sendiri dan para lelaki.Bayangkan keadaan Nabi Yusuf AS,dan bandingkan dengan diri kita.Beliau berada dalam sebuah bilik mewah,dengan pintu-pintu terus terkunci.Lalu,di hadapan matanya,terbaring indah seorang wanita penuh jelita,penuh menggoda.Dengan nada penuh ghairah,dan dalam bilik yang cukup rapat terkunci,tanpa seorang pun yang melihat.Namun,dengan penuh tegas,kalimah “inni maa’za Allah” itu di lafazkan. Tidak cukup dengan itu,baginda terusberpaling dan berlari dari wanita jelita yang menggodanya itu.Terus,godaan terhadap jejaka tampan ini berterusan. Dalam Quran merakamkan babak-babak ajaib ini.Ketika para perempuan itu telah memegang pisau masing-masing, Imraatul Aziz menyuruh Yusuf menampakkan diri. Semua perempuan kota itu terpana dengan sesosok manusia tampan di hadapan mereka. Bahkan mereka mengira bahwa ia adalah malaikat yang mulia (Yusuf 31). Keterpanaan mereka pada keelokan wajah pemuda Yusuf itu telah mengacaukan sensor syaraf dan koordinasi otot mereka hingga mereka masing-masing memotong jari mereka sendiri tanpa merasa kesakitan. Menurut Zaid bin Aslam, perempuan-perempuan itu tergila-gila kepada Yusuf, tidak sadar, dan kehilangan akal karena pemandangan yang mereka lihat.Lihatlah,bagaimana para wanita kota berkehendak ke atas dirinya.Sehinggakan,para wanita itu melebihkan dirinya di atas malaikat,lantaran ketampanannya.Namun,Subhanallah,hal itu tidak sedikit pun menerbitkan rasa senang atau bahagia dalam diri Baginda.Sebaliknya,lantaran rasa cintanya yang mendalam pada Allah SWT,Nabi Yusuf AS,lebih memilih penjara,dari semua godaan itu.Subhanallah..


Dia (Yusuf) berkata: “Rabbi (wahai Tuhanku)! Penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepada (melakukan)nya. Dan jika tidaklah Engkau (Allah) palingkan daripadaku tipu daya mereka, nescaya rebahlah aku kepada mereka dan jadilah aku termasuk orang yang jahil.” (Yusuf :33)


MasyaAllah.Dari Yusuf AS,kita belajar.Peristiwa yang dirakamkan Al-Quran ini kan terus berulang,dan terus berulang.Para pemuda yang merupakan warisnya Nabi Yusuf As,kan terus di datangi ujian yang sebegini juga.Dalam bilik yang terkunci,dengan paparan monitor yang sedia menanti,hanya tinggal menaip kata kunci,lantas akan muncullah ribuan,bahkan jutaan Imraatul Aziz di hadapan pupuk sepasang mata yang di kurniai Ilaahi.Saat berseorangan melayari internet dan saat menonton video,betapa begitu banyak para pemuda terus terkalahkan dek nafsu serakah yang bermaharajalela.Jiwa yang tidak terdidik dengan iman,hati yang tidak tertancap dengan Taqwa kan begitu mudah tertewaskan.Jiwa yang begitu terobsesi secara fisik pada wanita jelita di dalam ‘kotak bercahaya’ dan di luar rumahnya. Dorongan birahi dan libido yang begitu menggebu seakan telah memutus urat malunya,mematikan kewarasan akalnya.


Allahu Akbar.Di sinilah,ruh dan semangatnya Yusuf AS,harus sentiasa kita kumandangkan dan kita tanamkan dalam diri kita,jiwa para pemuda.Terus berusaha untuk mendidik diri dengan Iman dan ketaqwaan kepada Allah,agar hati dan jasad kita kan senantiasa merasakan pengawasan,pemerhatian,Rahmat,murka,dan kasih sayang Allah SWT.Agar dalam perjalanan-perjalanan hidup kita,saat kita tersasar,hati kita kan melahirkan sentakan-sentakan Iman.Sentakan-sentakan Iman yang kan meruntunkan hati dan jiwa kita yang penuh berdosa untuk merintih dan merayu ampunan dan kasih sayang pada Allah.Berteleku di sepertiga malam,bermunajat penuh harap,semoga ada ampunan buat kita,para pemuda.


Tidak cukup dengan isak tangis,bangkitlah para pemuda.Berpalinglah dari kejahiliahan dan sumber kemaksiaatan itu.Dan,terus berlarilah menuju Rahmat dan kasih sayang Allah.Usah berlengah.Kerna,pemuda yang di penuhi masa kosong,kan di hinggapi dengan potensi kemaksiatan.Beginilah,rumusnya yang di tuturkan oleh Syeikh Aidh Al-AlQarni.Saat diri kita sedang di goda,atau Iman kita yang sedang melemah,maka bangkitlah,berpaling dan berlarilah.Penuhkanlah aktiviti kita dengan amal soleh penuh keikhlasan.Kerna,keikhlasan itulah kuncinya kita untuk di selamatkan dari godaan-godaan yang mendatang.

“Demikianlah, kerana Kami (Allah) hendak selamatkan dia (Yusuf) daripada kejahatan dan kekotoran. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami (Allah) yang mukhlasin (ikhlas)”. (Yusuf:24)


Dan pasti, dalam kembara untuk menuju Ilaahi..di hadapan kita kan menanti jutaan rintangan.Akan senantiasa ada ujian demi ujian dari Allah SWt. Agar, dengan ujian itu,Allah SWT inginkan melayakkan kita untuk memasuki Syurganya yang penuh kenikmatan,dan berdampingan dengan Rasulullah Sholla Allahu A’laihi Wassalam yang mulia.


Maka,saat godaan itu terus mendatang,bernuansa dari peribadi hebat Nabi Yusuf AS, jadilah para pemuda yang mengumandangkan “Robbi,berikanlah daku kekuatan untuk memenjarakan nafsuku,kerna sungguh,penjara itu lebih aku sukai,dari godaan-godaan Syaitan itu.Robbi,bantulah daku untuk memenjarakan nafsuku,kerna sungguh,jika tidak Engkau palingkan diriku dari seluruh godaan ini, nescaya rebahlah aku,dan jadilah aku termasuk orang yang jahil

………………………………………………………………………………………


Semoga ada manfaatnya.Pada Allah saya bermohon.Hanya padaNya saya berharap dan menyembah.Semoga tinta ini kan menjadi bagian dari amal soleh buat saya dan teman-teman menyebarkannya.Dan,terlebih utama.semoga kita dapat saling mendoakan,agar saya,anda,dan kita semua kan menjadi para pemuda seperti Nabi Yusuf AS.Mohon doa dari semua teman-teman.InsyaAllah.


Bersambung di serial tadabbur Yusuf 2.InsyaAllah.


Transformasi cinta : Dari berahi menuju Syariee.

Qad syaghaffaha hubba.....

Mencintai Penanda Dosa
7:59 PM | Author: Ibnu Siddique


Dalam hidup, Allah sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau keshalihannya kadang membuat kita harus memejam mata.

Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.

“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.

Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh haru memohonkan keberkahan.

Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.

Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ad dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.

***

“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

-salim a. fillah, www.safillah.co.cc-

***

NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya.

Islam,EidulAdha dan kita.
11:16 PM | Author: Ibnu Siddique

Islam ini adalah Agama yang membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Ad-Deen yang terus tumbuh memandui arah kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan.


Islam adalah agama masa depan manusia.Inilah janji Allah.Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang menghuni China daratan.

Benarlah janji Allah.Kelak,akan tiba harinya ummat Manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.Dan,kemenangan itu tiba.Dan terbuka hati ummat dunia seluruhnya menerima hidayah dari Allah.Maka,tatkala tiba saat itu,seluruh jiwa kan bertasbih kpd Allah.Senada,Seirama dgn seluruh semesta.Atas segala nikmat kurniaan Allah.Hamdallah menerangi seluruh pelusuk bumi.Dan,manusia seluruhnya tunduk,sujud dan istighfar pada Allah.

Saat inilah,spt saatnya Fathul Mekah.Fathul seluruh dunia.Sptnya Fathul Makkah yg hanya terjadi dgn perjalanan dakwah yg begitu panjang,begitu berat dan payah,begitu mengujakan.Namun,lantaran jiwa-jiwa peribadi mulia yg terus menerus mengorbankan hidup mrk utk meraih redha Allah,lantas terjadilah Fathul Makkah.Spt inilah,hakikatnya utk Fathul seluruh dunia.Ia hanya akan terjadi,apabila Rijal-Rijal zaman ini menjual harta dan jiwa mereka utk meraih redha Allah,menyembelih haiwan buas nafsu,dan mengorbankan segenap potensi utk meraih Syahadah.

Di atas,pondasi CINTA dan PENGORBANAN yg didirikan oleh Nabi Allah Ibrahim AS dan keluarga Baginda yg mulia.Hari ini,kitalah generasinya yang akan meneruskan dan menyebarkan cinta dan kasih sayang itu ke seluruh pelusuk bumi.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37)

Ya Allah,kabulkanlah.

Pemuda Ideal
11:37 AM | Author: Ibnu Siddique

Berhati Emas berpotensi prima
Yang lembut dlm berbahasa dan teguh membawa suluh
Dia ibarat sutera halus di tengah sahabat tulus
Dia ibarat gerimis embun tiris memekarkan bunga-bunga
Dia ibarat topan beliung yang mengguncangkan laut ke relung-relung
Dialah gemersik air di tangan asrih
Dialah penumbang segala belantara dan sahara

Dialah pertautan agung
Iman Abu Bakar
keperkasaan Umar
Kedermawanan Uthman
Kecerdikan Ali
Kesederhanaan Abu Dzar
dan keteguhan Salman

Dia berdiri kokoh di dunia yg bergolak
Ibarat lentera Ulama’ di tengah gulita
Dia memilih syahid fi Sabilillah
Di atas segala jawatan dan harta
Dia menentang tindakan kuffar
Walau aniaya di mana saja
Maka nilainya pun semakin tinggi
Harganya semakin tak bertepi
Maka siapakah yang sanggup membelinya
Kecuali Allahu Robbul Izzati

Syair oleh Muhammad Iqbal Rahimahullah
Aku mencintai dirimu..
10:24 AM | Author: Ibnu Siddique
Aku mencintai dirimu..

Aku mencintaimu..
kerna kau seumpama bintang..
meski terkadang lelah..
kau tetap tabah..
meski jauh..
kau tetap bercahaya..
menerangi relung-relung jiwa..


Aku mencintaimu..
kerna kau spt mentari..
yg menyala-nyala di dalam dada..
menghangatkan jiwa..
terus hidup dlm segala tingkah bicara..

Aku mencintaimu..
kerna aku ingin mencintaimu..
kerna ruku' dan sujudmu pada TuhanMu..
ruku' dan sujudmu..
membuat aku rindu padamu..

Aku mencintaimu..
kerna kaulah Rasul Junjunganku..
aku mencintaimu..
kerna kaulah kekasih Tuhanku..

Allahumma Sholli A'la Muhammad..Wa A'ala aalihi Muhammad..
Bagaimana aku ingin tahu..
6:43 AM | Author: Ibnu Siddique
bagaimanakah aku ingin tahu,
redamu atau murkamu,
sekiranya rasa ini,
menguasai seluruh naluri.

bagaimanakah aku ingin tahu,
akhirnya semua ini akan bermuara dimana,
sekiranya rasa ini,
sering ingin selalu bersamaMu,

bagaimanakan aku ingin tahu,
jahatnya atau benarnya sentuhan ini,
yang begitu sakit kurasakan didalam,
adakah ia biasa mainan syaitan yg Kau murka,
atau adakah ia rasa yg benar yang hadirnya dari Mu juga.

kuatkan aku untuk terus serahkan segala kepadaMu,
walaupun rasa ku kuat untuk mencari hambaMu,
kerana aku tahu engkau Maha Tahu,
Engkau Maha Agung untuk tidak aku tinggalkan,
kerana memiliku Mu adalah tujuan,
sedangkan yang lain sekadar wasilah,
merasa dakapanMu adalah tujuan,
kasih manusia sekadar jalan,

Allah,
ikhlaskan lah hati ini,
dan berilah jalan terbaik menuju RedaMu
Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan..
5:45 PM | Author: Ibnu Siddique

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan.

Ramadhan yg mulia.Ramadhan yg penuh berkah.Ramadhan yg di rindui.

Semoga kehadiranmu ini,kan membekasi jiwa kami.Agar kami dapat senantiasa merasakan kedekatan (taqarrub) Allahu Robbi.Merasakan hangat kasih sayangnya,kedekatannya,yang lebih dekat dari urat leher nadi .Ramadhan yang melahirkn hati yang hidup,yang senantiasa 'bicara' sama Allah,"berdoalah,bukankah Allah SWT itu Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan?".Ramadhan yang melahirkan jiwa hamba,yang semangat menyahut (istijabah),seruan Ilaahi dan Rasulnya,pada sebenar-benar hal yang menghidupkan jiwanya.Ramadhan yang menjadi benteng,yangmenjauhkan dari neraka sejauh 70 'khoriifan',dan yang menghapuskn dosa-dosa.


Utamanya,Ramadhan yang kan mencetak peribadi berTaqwa.Bagi mereka yang melalui Ramadhan,dengan Puasa dan Quran; puasa yang menjinakkan hawa nafsu,menundukkan pandangan,me'mekak'kan telinga,berlapar dan dahaga.Tilawatul Quran yang melembutkn hati,mencerahkn minda,membangun visi ukhrawi,menancapkn misi a'bdi,dan mecerna kekuatan Ruhani.Dalam kelelahan 'peperangan' menewaskn hawa nafsu sehari2-hari,kita lalui keindahan malam Ramadhan dengan kerehatan dalam solat Suat Terawih."Ya Bilal,rehatkanlah kami dengan Solat",Sabda baginda Nabi,sekembali dari Ghazwah,dalam keletihan yang amat sangat.Setelah itu,kita hempaskn kerinduan,kecintaan,dan pohon keampunan pada sepertiga akhir malam yang penuh syahdu,dan Rahmah.Dalam esak sendu tangis,2/3 mlm menjadi detik-detik berharga seorang Mukmin,saat Robbul A'lamin turun ke langit dunia.Lantas,bersahurlah,kerna "sesungguhnya dlm sahur itu barakah",Sabda Rasulullah.Jadilah kita orang-orang yang 'mustaghfiriina bil as har".Lalu,setelah seharian berpuasa,tibalah saat yang menjadi kegembiraan dan kebahagiaan bagi yang berpuasa,itulah saat berbuka.Begitu bahagianya dia,kerna memahami bahawa amalan lain adalah baginya sendiri,sedang Puasanya adalah untuk Robbnya,dan Dia yang kan menilai puasanya sesuai kadar kepayahannya.


Owh,Ramadhan..saat udara lembut sepoi bertiup dengan penuh aroma Syurga.Saat Iblis laknatullah itu di rantaikn.Saat di bebaskn ahli Neraka,dan di masukkn ke dlm Syurga.Saat di buka seluas-luasnya,7 pintu syurga.Saat kita mendengari,panggilan penuh kenikmatan dari pintu Ar-Rayyan.Saat paling berharga dlm sepanjang tahun,Lailatul Qadar yang menjadi buruan kerna nilainya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.


"Ya Allah,jadikanlah kami golongan org2 yg mampu melaksanakn puasa di bulan ini,menyempurnakn pahala,mendapat Lailatul Qadar dan memperoleh penghargaan dari sisiMu".

Suara Nurani dan Jeruji Penjara Dosa
1:03 AM | Author: Ibnu Siddique
Bismillahirrohmanirrahim.

Allah Subhanawataa'la mengutus Rasul dan menurunkan kitabNya untuk membimbing manusia agar meniti jalan hidup yang di kehendakiNYa; itulah Jalan Islam.Dengan bimbingan wahyu yang serba lengkap itu,sejarah kemanusiaan kita di warnai gelombang kebaikan dan badai kebajikan.Namun,setiap dari kita punya pemahaman dan interaksi yang berbeza terhadap panduan wahyu ini,bisa jadi kerna ilmu kita yang tidak banyak mana.Juga,perkenalan tiap-tiap manusia terhadap sunnah Rasulullah juga tidak merata,juga lantaran ilmu yang kurang di dada.

Namun,atas kasih sayang Allah SWT Yang Maha Luas,Allah SWT masih menanamkan dalam diri kita satu 'device' lagi,agar kita bisa mengenali kebaikan dan memilihnya.Itulah nurani;pesan fitrah Ilahi yang berbisik dalam hati.

Sebatas apapun perkenalan kita perkenalan dan pemahaman kita dgn bimbingan Ilahiah melalui Rasul dan Wahyu,kita masih punya kesempatan untuk bertanta pada hati dan mendengarkan suara nuraninya.
Sungguh,tiap kali berdepan dengan suatu keadaan,setiap saat kita punya keharusan untuk membuat suatu pilihan,ada seberkas bisikan dari dalam nurani kita.Seberkas bisikan yang menyeru kita agar melakukan hal yang fitrah,juga untuk mengenali kebaikan dan keburukan,lalu memberi kita kuasa untuk memilihnya.

Tak ada yang lebih jernih dari suara hati,ketika ia menegur kita tanpa suara.Teguran yang begitu halus,begitu bening,begitu dalam.Tak ada yang lebih jujur dari nurani,saat ia menyedarkan kita,tanpa kata-kata.Nasihatnya begitu bening,dan kita tak kuasa menyangkal.Tak ada yang lebih tajam dari mata hati,ketika ia menghentak kita dgn beragam penyesalan,lantaran tindakan dan pilihan kita yang beragam kesalahan dan kealpaan.Begitu tipis,begitu menghiris.

Maka,berbahagialah orang-orang yang jujur seluruh waktunya.Mereka,kita;yang di penuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

"Mintalah fatwa kepada hatimu.Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwamu padanya,dan ketenteraman itu dalam hatimu.Dan,dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa,dan ragu-ragu dalam hati,meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu" (HR MUslim).

"Iftasti Qolbak,mintalah fatwa dari hatimu",,demikian sabda Baginda Rasulullah.Baginda Rasulullah,juga menggambarkan bahawa hati adalah Raja bagi badan ini.Jika ia berdenyut baik,maka baik pula seluruh raga yang berdetak dalam iramanya.Jika ia rusak,maka rusak pula semuanya.Makanya,ketika rakyat menderhakai Raja yang adil,yang sentiasa memerintah kepada kebaikan,akan berantakanlah seluruh negara itu.Negara itu akan menjad kucar kacir.Wilayahnya akan di serbu musuh.
"Adapun bagi setiap raja sebuah tempat larangan, dan tempat larangan Allah itu adalah pekara-pekara yang diharamkanNya. dan ketahuilah pada setiap jasad itu seketul daging. Andainya ia baik, baiklah seluruh jasad itu dan sekiranya ia rosak maka rosaklah seluruh jasad itu. Itulah hati". (Hadis ke 6,dari Arbaai An-Nawawi)
'Sebeginilah,perumpamaan kita.Saat kita melanggari nasihat hati yang merupakan raja kita,maka seluruh tindakan,badan kita kan binasa,dan musuh-musuh kita yang terdiri utamanya dari Raja Zholim;nafsu,dan penasihatnya;Syaitan,kan menguasai seluruh raga kita.

Setiap kita punya hati,dan di dalamnya nurani kita terus bergetar menyuarakan pesan Ilahi.Hati bicara kata tanpa kata,menjawab tanpa suara,tapi ia sangat terasa.Permasalahannya kemudian ialah,adakah suara hati kita itu,kan bisa menembusi dinding hati kita,lalu melahirkan obsesi kita pada menebar kebaikan dan menyeru kebajikan.Kerna,bukankah yang terjadi,Seringkali, kita cuma rasakan ia hanya berbisik.Tak jelas.Atau,bahkan ia langsung terbungkam.Sebab apakah agaknya?

Nah! Ini adalah kerana karat-karat dosa yang menjeruji hati kita.Hati kita di penjarakan oleh dosa-dosa kita.Sehingga teriakannya,seringkali terbungkam.Sehingga,setiap
suara hati kita,hanya bisa menggetarkan jeruji penjara dosa itu.Besi penjara hati yang kita bina,dari tompok-tompok hitam kelat dosa dan noda.Hasilnya,nurani yang berbisik,tapi bisikan itu terkalahkan dek bisikan syaitan yang lebih kuat.Lantaran nafsu kita yang lebih berteriak nyaring,akibat dari kekuatan yang ia dapatkan dari dosa-dosa yang kita lakukan.Lantas,bisikan-bisikan nafsu dan syaitan itulah yang kita dengar dan turuti.

Setiap kemaksiatan yang kita lakukan,kan menjadi noktah hitam yang menghitami hati kita.
Awalnya,nurani kita kan selalu mengirimkan tanda bahawa ia tersakiti.Seringkali bukan?Penyesalan demi penyesalan yang kita rasakan.Itulah signal-signal kiriman hati pada kita.memberitahu bahawa ia sedang sakit.Tapi.setiap kali kita memperturutkan hawa,dan meneruskan kemaksiatan,di ulang dan di ulang,noktah dosa itu terus menjadi jeruji penjara yang tebal,hingga suara nurani itu semakin tak terasa.Hingga suatu ketika,hati itu kan mati.Bukan mati denyutannya,tapi ia mati kehilangan kekuatan utk menyuarakan rasa fitrah Ilahiah.

"Hukuman terberat bagi suatu dosa", kata Imam Ibnul Qayyim, "adalah perasaan,jiwa yang tak merasa berdosa". Ya.Kerna.perasaan tidak merasa berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati.Ingat,bukan kita tidak melakukan dosa,tapi kita tidak merasa kita melakukan dosa.Umpama kulit yang hilang fungsi kelima-lima deria reseptornya,atau lidah yang kehilangan deria rasanya.Segala rasa kepanasan,kesakitan,kehalusan bahkan ketajaman tidak lagi kita bisa rasakan.Rasa manis,masin,pahit,tidak lagi kita bisa nikmati.owh,alangkah ruginya!.

"Sesunggunhya dosa-dosa itu", kata Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam."Apabila terus menerus menimpa hati,maka ia akan menutupinya.Dan,bila hati kita telah tertutup,akan datang kunci dan cap dari Allah.Bila sudah demikian,tak ada lagi baginya jalan,tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya,tidak ada juga kekkafiran untuk keluar darinya"

Kita mohon dari Allah SWT agar jauh dariNYA mengunci hati kita dari jalan-jalan keImanan.Kita mohon kekuatan pada Allah SWT untuk sentiasa memelihara hati kita,agar ia sentiasa menjadi penasihat yang setia.Dan,sumber kekuatan dan jalan untuk meraih kekuatan itu telah sentiasa terhidang di depan mata kita.

Kadang,kita memerlukan saat-saat sepi untuk bertanya pada hati.Dalam tahajud dua rakaat di malam yang sunyi,saat kita cuma berduaan dan berkhulwah dgn Robbul Izzati.Mudah-mudahan,bisik
an nurani itu kan bisa kita kenali,dan ia terdengar lebih jelas dari antara bising-bising nafsu.
"Jika seseorang kerap merenungi kebesaran Allah SWT di saat menyendiri", kata Ali Zainal Abidin ibn Hussain,"Maka ALLAH akan mengenalkan padanya segala silap dan dosanya,hingga ia sibuk dengan dirinya".

Mahukan sumber kekuatan lagi?

Lebih jauh,kita harus mengakrabkan hati kita dengan wahyu.Kerna,sungguh suara hati dan wahyu
itu bersaudara.Mereka membawa pesan-pesan yang sama.Pesan Ilahiah yang tulus,yang kan memimpin kita ke jalan yang di redhoiNYa.

Subhanallah.Alangkah bahagia dan syahdunya,saat hari-hari yang kita lalui,kita jalani ia dengan mentilawahi kitab suci.Kita tadaburrinya.Lalu,kita buka tafsirnya.Maka hati kita kan tersenyum bahagia,tatkala menerima kunjungan saudaranya,pesan wahyu itu.Lalu,suara hati itu terus menjadi kuat,dan pesannya semakin lantang kedengaran,lantaran kita dan Quran saling berpimpin tangan.Hidup kita kan terasa lebih bahagia,mendengari dan menuruti suara hati yang berbisik mesra.Hingga,hidup kita serasa sempurna,mendengar bisikannya,dan Kalam Tuhannya,yang kan menyemangati kita berbuat Taqwa.Gandingkanlah suara hati dan Kalam Ilahi.Kerna,tanpa Kalam Ilahi,bisa jadi suara yang kita rasakan bisakan nurani,sebenarnya adalah bisikan nafsu yang sentiasa merosaki hati.
Lantas,kita jalani kehidupan ini,berlandaskan pimpinan wahyu dan sunnah Rasulullah,bertemankan suara hati.


"yang paling aku takutkan ialah keakraban hati
dengan kemungkaran dan dosa
kerna,jika suatu kedurhakaan berulangkali di kerjakan
maka jiwa menjadi akrab dengannya
hingga ia tak lagi peka,mati rasa..."


~Hassan Az-Zayyat,Rahimahullahyu

Segala puji hanya layak bagi Allah SWT semata,Sholawat dan Salam buat Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam.

daku memohon Kekuatan.
5:46 AM | Author: Ibnu Siddique
" Robbi..ku mohon kekuatan dariMu..agar ku bisa terus menapaki kehidupan ini..
Ilaahi..ku mohon ketabahan dariMu..agar ku bisa terus melangkahkan kaki.."

28 June 2010,seusai Subuh.

tentang Keserasian Jiwa.
5:43 AM | Author: Ibnu Siddique

Jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yg tekun
sedang cinta adalah putera dari keserasian jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta
dalam hitungan tahun,bahkan sepanjang usia dunia.

Namun,
keserarasian jiwa memang tak selalu sama rumusnya.
ada dua sungai besar yang bertemu,
dan bermuara di laut yang satu,
ini kesamaan.

ada panas dan dingin bertemu,
untuk mencapai kehangatan,
ini keseimbangan.

ada hujan lebat yang turun
berjumpa tanah subur,
lalu menumbuhkan taman,
kebun subur yang indah dan terus berbuah;
maka ini keberkahan.

Biar apa pun,
rumusnya keserasian jiwa itu,
ada satu hal yang tetap sama.
mereka serasi kerana mereka bertasbih memuji Allah,
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi,
terus ruku' dan sujud pada keagunganNya.

Seni Kehidupan Spiritual
9:23 AM | Author: Ibnu Siddique

“Kaifa yasyruqu qolbun suwarul akwan munthabi’atun fii miratihi”

"Bagaimanakah hati akan cemerlang bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati" demikian ujar Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab Hikamnya.

Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat, lihatlah di bidang apa saja hati ini menjadi resah. Bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rizki, berani tidak jujur demi sepeser dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia, itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusyu’, bekal akhirat yang belum banyak, akhlak yang masih buruk, itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi karena kita mencari penghidupan jasmani disini dan mempersiapkan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama bagi ruh kita gemerlap dunia material ini adalah racun yang mematikan.

Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat-tempat yang paling menjijikkan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi. Tetapi kita tidak pernah mendengar bahwa ada lalat yang terserang typhus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuan lalat memiliki kebiasaan yang unik, yaitu kebiasaan membarsihkan diri. Setiap hinggap di suatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya. Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, ia membersihkan pula kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya, mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya setelah itu barulah dengan pompa penyerap ia masukkan ke kerongkongannya.

Subhanallah! Luar biasa, inilah seni kehidupan spiritual, kita haris mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang sistem kekebalan spiritual. Agama telah memberikan kita formula anti virus itu. Formulanya adalah: makan makanan yang halal, menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktivitas demi menegakkan shalat, peduli dengan kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat, bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian dan ketauhidan yang kokoh yaitu segala sesuatu berada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Ada satu kalimat ringkas yang dapat mencakup hal ini yaitu; “tubuh bergaul dengan makhluk sedang hati bergaul dengan khalik.” Memang tidak mudah.

Dari ceramah Ustadz Abdul Hakim ‘Tim asatidz Pesantren Daarut Tauhiid