Seni Kehidupan Spiritual
9:23 AM | Author: Ibnu Siddique

“Kaifa yasyruqu qolbun suwarul akwan munthabi’atun fii miratihi”

"Bagaimanakah hati akan cemerlang bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati" demikian ujar Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab Hikamnya.

Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat, lihatlah di bidang apa saja hati ini menjadi resah. Bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rizki, berani tidak jujur demi sepeser dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia, itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusyu’, bekal akhirat yang belum banyak, akhlak yang masih buruk, itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.

Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi karena kita mencari penghidupan jasmani disini dan mempersiapkan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama bagi ruh kita gemerlap dunia material ini adalah racun yang mematikan.

Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat-tempat yang paling menjijikkan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi. Tetapi kita tidak pernah mendengar bahwa ada lalat yang terserang typhus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuan lalat memiliki kebiasaan yang unik, yaitu kebiasaan membarsihkan diri. Setiap hinggap di suatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya. Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, ia membersihkan pula kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya, mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya setelah itu barulah dengan pompa penyerap ia masukkan ke kerongkongannya.

Subhanallah! Luar biasa, inilah seni kehidupan spiritual, kita haris mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang sistem kekebalan spiritual. Agama telah memberikan kita formula anti virus itu. Formulanya adalah: makan makanan yang halal, menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktivitas demi menegakkan shalat, peduli dengan kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat, bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian dan ketauhidan yang kokoh yaitu segala sesuatu berada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Ada satu kalimat ringkas yang dapat mencakup hal ini yaitu; “tubuh bergaul dengan makhluk sedang hati bergaul dengan khalik.” Memang tidak mudah.

Dari ceramah Ustadz Abdul Hakim ‘Tim asatidz Pesantren Daarut Tauhiid

Aku Yang Mula Rebah
7:10 PM | Author: Ibnu Siddique

Aku yang mula rebah
mencari-cari nafas
siapa yang dipanggil khalifah
dalam diriku.

Aku yang mula tewas
sengaja melupakan setiap hikmah
dan bayu dingin yang menyapa ketenangan jiwa
tatkala cinta Tuhanku membugar.

Aku yang kononnya tegar
hanya seorang pacar
membelangkasi kehinaan dan onar
menyenangi kejahatan dan makar.

Aku yang mula rebah
Tahu jalan kembali bangkit
Tahu jalan kembali segar
Adakah aku mahu?


"Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya ?..." (As-Sajdah: 22)


shazlee shah azeman
kosas
18 Disember 2009