Suara Nurani dan Jeruji Penjara Dosa
1:03 AM | Author: Ibnu Siddique
Bismillahirrohmanirrahim.

Allah Subhanawataa'la mengutus Rasul dan menurunkan kitabNya untuk membimbing manusia agar meniti jalan hidup yang di kehendakiNYa; itulah Jalan Islam.Dengan bimbingan wahyu yang serba lengkap itu,sejarah kemanusiaan kita di warnai gelombang kebaikan dan badai kebajikan.Namun,setiap dari kita punya pemahaman dan interaksi yang berbeza terhadap panduan wahyu ini,bisa jadi kerna ilmu kita yang tidak banyak mana.Juga,perkenalan tiap-tiap manusia terhadap sunnah Rasulullah juga tidak merata,juga lantaran ilmu yang kurang di dada.

Namun,atas kasih sayang Allah SWT Yang Maha Luas,Allah SWT masih menanamkan dalam diri kita satu 'device' lagi,agar kita bisa mengenali kebaikan dan memilihnya.Itulah nurani;pesan fitrah Ilahi yang berbisik dalam hati.

Sebatas apapun perkenalan kita perkenalan dan pemahaman kita dgn bimbingan Ilahiah melalui Rasul dan Wahyu,kita masih punya kesempatan untuk bertanta pada hati dan mendengarkan suara nuraninya.
Sungguh,tiap kali berdepan dengan suatu keadaan,setiap saat kita punya keharusan untuk membuat suatu pilihan,ada seberkas bisikan dari dalam nurani kita.Seberkas bisikan yang menyeru kita agar melakukan hal yang fitrah,juga untuk mengenali kebaikan dan keburukan,lalu memberi kita kuasa untuk memilihnya.

Tak ada yang lebih jernih dari suara hati,ketika ia menegur kita tanpa suara.Teguran yang begitu halus,begitu bening,begitu dalam.Tak ada yang lebih jujur dari nurani,saat ia menyedarkan kita,tanpa kata-kata.Nasihatnya begitu bening,dan kita tak kuasa menyangkal.Tak ada yang lebih tajam dari mata hati,ketika ia menghentak kita dgn beragam penyesalan,lantaran tindakan dan pilihan kita yang beragam kesalahan dan kealpaan.Begitu tipis,begitu menghiris.

Maka,berbahagialah orang-orang yang jujur seluruh waktunya.Mereka,kita;yang di penuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

"Mintalah fatwa kepada hatimu.Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwamu padanya,dan ketenteraman itu dalam hatimu.Dan,dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa,dan ragu-ragu dalam hati,meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu" (HR MUslim).

"Iftasti Qolbak,mintalah fatwa dari hatimu",,demikian sabda Baginda Rasulullah.Baginda Rasulullah,juga menggambarkan bahawa hati adalah Raja bagi badan ini.Jika ia berdenyut baik,maka baik pula seluruh raga yang berdetak dalam iramanya.Jika ia rusak,maka rusak pula semuanya.Makanya,ketika rakyat menderhakai Raja yang adil,yang sentiasa memerintah kepada kebaikan,akan berantakanlah seluruh negara itu.Negara itu akan menjad kucar kacir.Wilayahnya akan di serbu musuh.
"Adapun bagi setiap raja sebuah tempat larangan, dan tempat larangan Allah itu adalah pekara-pekara yang diharamkanNya. dan ketahuilah pada setiap jasad itu seketul daging. Andainya ia baik, baiklah seluruh jasad itu dan sekiranya ia rosak maka rosaklah seluruh jasad itu. Itulah hati". (Hadis ke 6,dari Arbaai An-Nawawi)
'Sebeginilah,perumpamaan kita.Saat kita melanggari nasihat hati yang merupakan raja kita,maka seluruh tindakan,badan kita kan binasa,dan musuh-musuh kita yang terdiri utamanya dari Raja Zholim;nafsu,dan penasihatnya;Syaitan,kan menguasai seluruh raga kita.

Setiap kita punya hati,dan di dalamnya nurani kita terus bergetar menyuarakan pesan Ilahi.Hati bicara kata tanpa kata,menjawab tanpa suara,tapi ia sangat terasa.Permasalahannya kemudian ialah,adakah suara hati kita itu,kan bisa menembusi dinding hati kita,lalu melahirkan obsesi kita pada menebar kebaikan dan menyeru kebajikan.Kerna,bukankah yang terjadi,Seringkali, kita cuma rasakan ia hanya berbisik.Tak jelas.Atau,bahkan ia langsung terbungkam.Sebab apakah agaknya?

Nah! Ini adalah kerana karat-karat dosa yang menjeruji hati kita.Hati kita di penjarakan oleh dosa-dosa kita.Sehingga teriakannya,seringkali terbungkam.Sehingga,setiap
suara hati kita,hanya bisa menggetarkan jeruji penjara dosa itu.Besi penjara hati yang kita bina,dari tompok-tompok hitam kelat dosa dan noda.Hasilnya,nurani yang berbisik,tapi bisikan itu terkalahkan dek bisikan syaitan yang lebih kuat.Lantaran nafsu kita yang lebih berteriak nyaring,akibat dari kekuatan yang ia dapatkan dari dosa-dosa yang kita lakukan.Lantas,bisikan-bisikan nafsu dan syaitan itulah yang kita dengar dan turuti.

Setiap kemaksiatan yang kita lakukan,kan menjadi noktah hitam yang menghitami hati kita.
Awalnya,nurani kita kan selalu mengirimkan tanda bahawa ia tersakiti.Seringkali bukan?Penyesalan demi penyesalan yang kita rasakan.Itulah signal-signal kiriman hati pada kita.memberitahu bahawa ia sedang sakit.Tapi.setiap kali kita memperturutkan hawa,dan meneruskan kemaksiatan,di ulang dan di ulang,noktah dosa itu terus menjadi jeruji penjara yang tebal,hingga suara nurani itu semakin tak terasa.Hingga suatu ketika,hati itu kan mati.Bukan mati denyutannya,tapi ia mati kehilangan kekuatan utk menyuarakan rasa fitrah Ilahiah.

"Hukuman terberat bagi suatu dosa", kata Imam Ibnul Qayyim, "adalah perasaan,jiwa yang tak merasa berdosa". Ya.Kerna.perasaan tidak merasa berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati.Ingat,bukan kita tidak melakukan dosa,tapi kita tidak merasa kita melakukan dosa.Umpama kulit yang hilang fungsi kelima-lima deria reseptornya,atau lidah yang kehilangan deria rasanya.Segala rasa kepanasan,kesakitan,kehalusan bahkan ketajaman tidak lagi kita bisa rasakan.Rasa manis,masin,pahit,tidak lagi kita bisa nikmati.owh,alangkah ruginya!.

"Sesunggunhya dosa-dosa itu", kata Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam."Apabila terus menerus menimpa hati,maka ia akan menutupinya.Dan,bila hati kita telah tertutup,akan datang kunci dan cap dari Allah.Bila sudah demikian,tak ada lagi baginya jalan,tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya,tidak ada juga kekkafiran untuk keluar darinya"

Kita mohon dari Allah SWT agar jauh dariNYA mengunci hati kita dari jalan-jalan keImanan.Kita mohon kekuatan pada Allah SWT untuk sentiasa memelihara hati kita,agar ia sentiasa menjadi penasihat yang setia.Dan,sumber kekuatan dan jalan untuk meraih kekuatan itu telah sentiasa terhidang di depan mata kita.

Kadang,kita memerlukan saat-saat sepi untuk bertanya pada hati.Dalam tahajud dua rakaat di malam yang sunyi,saat kita cuma berduaan dan berkhulwah dgn Robbul Izzati.Mudah-mudahan,bisik
an nurani itu kan bisa kita kenali,dan ia terdengar lebih jelas dari antara bising-bising nafsu.
"Jika seseorang kerap merenungi kebesaran Allah SWT di saat menyendiri", kata Ali Zainal Abidin ibn Hussain,"Maka ALLAH akan mengenalkan padanya segala silap dan dosanya,hingga ia sibuk dengan dirinya".

Mahukan sumber kekuatan lagi?

Lebih jauh,kita harus mengakrabkan hati kita dengan wahyu.Kerna,sungguh suara hati dan wahyu
itu bersaudara.Mereka membawa pesan-pesan yang sama.Pesan Ilahiah yang tulus,yang kan memimpin kita ke jalan yang di redhoiNYa.

Subhanallah.Alangkah bahagia dan syahdunya,saat hari-hari yang kita lalui,kita jalani ia dengan mentilawahi kitab suci.Kita tadaburrinya.Lalu,kita buka tafsirnya.Maka hati kita kan tersenyum bahagia,tatkala menerima kunjungan saudaranya,pesan wahyu itu.Lalu,suara hati itu terus menjadi kuat,dan pesannya semakin lantang kedengaran,lantaran kita dan Quran saling berpimpin tangan.Hidup kita kan terasa lebih bahagia,mendengari dan menuruti suara hati yang berbisik mesra.Hingga,hidup kita serasa sempurna,mendengar bisikannya,dan Kalam Tuhannya,yang kan menyemangati kita berbuat Taqwa.Gandingkanlah suara hati dan Kalam Ilahi.Kerna,tanpa Kalam Ilahi,bisa jadi suara yang kita rasakan bisakan nurani,sebenarnya adalah bisikan nafsu yang sentiasa merosaki hati.
Lantas,kita jalani kehidupan ini,berlandaskan pimpinan wahyu dan sunnah Rasulullah,bertemankan suara hati.


"yang paling aku takutkan ialah keakraban hati
dengan kemungkaran dan dosa
kerna,jika suatu kedurhakaan berulangkali di kerjakan
maka jiwa menjadi akrab dengannya
hingga ia tak lagi peka,mati rasa..."


~Hassan Az-Zayyat,Rahimahullahyu

Segala puji hanya layak bagi Allah SWT semata,Sholawat dan Salam buat Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam.