Allah Subhanawataa'la mengutus Rasul dan menurunkan kitabNya untuk membimbing manusia agar meniti jalan hidup yang di kehendakiNYa; itulah Jalan Islam.Dengan bimbingan wahyu yang serba lengkap itu,sejarah kemanusiaan kita di warnai gelombang kebaikan dan badai kebajikan.Namun,setiap dari kita punya pemahaman dan interaksi yang berbeza terhadap panduan wahyu ini,bisa jadi kerna ilmu kita yang tidak banyak mana.Juga,perkenalan tiap-tiap manusia terhadap sunnah Rasulullah juga tidak merata,juga lantaran ilmu yang kurang di dada.
Namun,atas kasih sayang Allah SWT Yang Maha Luas,Allah SWT masih menanamkan dalam diri kita satu 'device' lagi,agar kita bisa mengenali kebaikan dan memilihnya.Itulah nurani;pesan fitrah Ilahi yang berbisik dalam hati.
Sebatas apapun perkenalan kita perkenalan dan pemahaman kita dgn bimbingan Ilahiah melalui Rasul dan Wahyu,kita masih punya kesempatan untuk bertanta pada hati dan mendengarkan suara nuraninya.
Sungguh,tiap kali berdepan dengan suatu keadaan,setiap saat kita punya keharusan untuk membuat suatu pilihan,ada seberkas bisikan dari dalam nurani kita.Seberkas bisikan yang menyeru kita agar melakukan hal yang fitrah,juga untuk mengenali kebaikan dan keburukan,lalu memberi kita kuasa untuk memilihnya.
Tak ada yang lebih jernih dari suara hati,ketika ia menegur kita tanpa suara.Teguran yang begitu halus,begitu bening,begitu dalam.Tak ada yang lebih jujur dari nurani,saat ia menyedarkan kita,tanpa kata-kata.Nasihatnya begitu bening,dan kita tak kuasa menyangkal.Tak ada yang lebih tajam dari mata hati,ketika ia menghentak kita dgn beragam penyesalan,lantaran tindakan dan pilihan kita yang beragam kesalahan dan kealpaan.Begitu tipis,begitu menghiris.
Maka,berbahagialah orang-orang yang jujur seluruh waktunya.Mereka,kita;yang di penuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.
"Mintalah fatwa kepada hatimu.Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwamu padanya,dan ketenteraman itu dalam hatimu.Dan,dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa,dan ragu-ragu dalam hati,meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu" (HR MUslim).
"Iftasti Qolbak,mintalah fatwa dari hatimu",,demikian sabda Baginda Rasulullah.Baginda Rasulullah,juga menggambarkan bahawa hati adalah Raja bagi badan ini.Jika ia berdenyut baik,maka baik pula seluruh raga yang berdetak dalam iramanya.Jika ia rusak,maka rusak pula semuanya.Makanya,ketika rakyat menderhakai Raja yang adil,yang sentiasa memerintah kepada kebaikan,akan berantakanlah seluruh negara itu.Negara itu akan menjad kucar kacir.Wilayahnya akan di serbu musuh.
"Adapun bagi setiap raja sebuah tempat larangan, dan tempat larangan Allah itu adalah pekara-pekara yang diharamkanNya. dan ketahuilah pada setiap jasad itu seketul daging. Andainya ia baik, baiklah seluruh jasad itu dan sekiranya ia rosak maka rosaklah seluruh jasad itu. Itulah hati". (Hadis ke 6,dari Arbaai An-Nawawi)
'Sebeginilah,perumpamaan kita.Saat kita melanggari nasihat hati yang merupakan raja kita,maka seluruh tindakan,badan kita kan binasa,dan musuh-musuh kita yang terdiri utamanya dari Raja Zholim;nafsu,dan penasihatnya;Syaitan,kan menguasai seluruh raga kita.
Setiap kita punya hati,dan di dalamnya nurani kita terus bergetar menyuarakan pesan Ilahi.Hati bicara kata tanpa kata,menjawab tanpa suara,tapi ia sangat terasa.Permasalahannya kemudian ialah,adakah suara hati kita itu,kan bisa menembusi dinding hati kita,lalu melahirkan obsesi kita pada menebar kebaikan dan menyeru kebajikan.Kerna,bukankah yang terjadi,Seringkali, kita cuma rasakan ia hanya berbisik.Tak jelas.Atau,bahkan ia langsung terbungkam.Sebab apakah agaknya?
Nah! Ini adalah kerana karat-karat dosa yang menjeruji hati kita.Hati kita di penjarakan oleh dosa-dosa kita.Sehingga teriakannya,seringkali terbungkam.Sehingga,setiap
Setiap kemaksiatan yang kita lakukan,kan menjadi noktah hitam yang menghitami hati kita.
Awalnya,nurani kita kan selalu mengirimkan tanda bahawa ia tersakiti.Seringkali bukan?Penyesalan demi penyesalan yang kita rasakan.Itulah signal-signal kiriman hati pada kita.memberitahu bahawa ia sedang sakit.Tapi.setiap kali kita memperturutkan hawa,dan meneruskan kemaksiatan,di ulang dan di ulang,noktah dosa itu terus menjadi jeruji penjara yang tebal,hingga suara nurani itu semakin tak terasa.Hingga suatu ketika,hati itu kan mati.Bukan mati denyutannya,tapi ia mati kehilangan kekuatan utk menyuarakan rasa fitrah Ilahiah.
"Hukuman terberat bagi suatu dosa", kata Imam Ibnul Qayyim, "adalah perasaan,jiwa yang tak merasa berdosa". Ya.Kerna.perasaan tidak merasa berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati.Ingat,bukan kita tidak melakukan dosa,tapi kita tidak merasa kita melakukan dosa.Umpama kulit yang hilang fungsi kelima-lima deria reseptornya,atau lidah yang kehilangan deria rasanya.Segala rasa kepanasan,kesakitan,kehalu
"Sesunggunhya dosa-dosa itu", kata Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam."Apabila terus menerus menimpa hati,maka ia akan menutupinya.Dan,bila hati kita telah tertutup,akan datang kunci dan cap dari Allah.Bila sudah demikian,tak ada lagi baginya jalan,tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya,tidak ada juga kekkafiran untuk keluar darinya"
Kita mohon dari Allah SWT agar jauh dariNYA mengunci hati kita dari jalan-jalan keImanan.Kita mohon kekuatan pada Allah SWT untuk sentiasa memelihara hati kita,agar ia sentiasa menjadi penasihat yang setia.Dan,sumber kekuatan dan jalan untuk meraih kekuatan itu telah sentiasa terhidang di depan mata kita.
Kadang,kita memerlukan saat-saat sepi untuk bertanya pada hati.Dalam tahajud dua rakaat di malam yang sunyi,saat kita cuma berduaan dan berkhulwah dgn Robbul Izzati.Mudah-mudahan,bisik
"Jika seseorang kerap merenungi kebesaran Allah SWT di saat menyendiri", kata Ali Zainal Abidin ibn Hussain,"Maka ALLAH akan mengenalkan padanya segala silap dan dosanya,hingga ia sibuk dengan dirinya".
Mahukan sumber kekuatan lagi?
Lebih jauh,kita harus mengakrabkan hati kita dengan wahyu.Kerna,sungguh suara hati dan wahyu
itu bersaudara.Mereka membawa pesan-pesan yang sama.Pesan Ilahiah yang tulus,yang kan memimpin kita ke jalan yang di redhoiNYa.
Subhanallah.Alangkah bahagia dan syahdunya,saat hari-hari yang kita lalui,kita jalani ia dengan mentilawahi kitab suci.Kita tadaburrinya.Lalu,kita buka tafsirnya.Maka hati kita kan tersenyum bahagia,tatkala menerima kunjungan saudaranya,pesan wahyu itu.Lalu,suara hati itu terus menjadi kuat,dan pesannya semakin lantang kedengaran,lantaran kita dan Quran saling berpimpin tangan.Hidup kita kan terasa lebih bahagia,mendengari dan menuruti suara hati yang berbisik mesra.Hingga,hidup kita serasa sempurna,mendengar bisikannya,dan Kalam Tuhannya,yang kan menyemangati kita berbuat Taqwa.Gandingkanlah suara hati dan Kalam Ilahi.Kerna,tanpa Kalam Ilahi,bisa jadi suara yang kita rasakan bisakan nurani,sebenarnya adalah bisikan nafsu yang sentiasa merosaki hati.
Lantas,kita jalani kehidupan ini,berlandaskan pimpinan wahyu dan sunnah Rasulullah,bertemankan suara hati.
"yang paling aku takutkan ialah keakraban hati
dengan kemungkaran dan dosa
kerna,jika suatu kedurhakaan berulangkali di kerjakan
maka jiwa menjadi akrab dengannya
hingga ia tak lagi peka,mati rasa..."
~Hassan Az-Zayyat,Rahimahullahyu
Segala puji hanya layak bagi Allah SWT semata,Sholawat dan Salam buat Rasulullah Sholla Allahu A'laihi Wassalam.
Jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yg tekun
sedang cinta adalah putera dari keserasian jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta
dalam hitungan tahun,bahkan sepanjang usia dunia.
Namun,
keserarasian jiwa memang tak selalu sama rumusnya.
ada dua sungai besar yang bertemu,
dan bermuara di laut yang satu,
ini kesamaan.
ada panas dan dingin bertemu,
untuk mencapai kehangatan,
ini keseimbangan.
ada hujan lebat yang turun
berjumpa tanah subur,
lalu menumbuhkan taman,
kebun subur yang indah dan terus berbuah;
maka ini keberkahan.
Biar apa pun,
rumusnya keserasian jiwa itu,
ada satu hal yang tetap sama.
mereka serasi kerana mereka bertasbih memuji Allah,
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi,
terus ruku' dan sujud pada keagunganNya.
“Kaifa yasyruqu qolbun suwarul akwan munthabi’atun fii miratihi”
"Bagaimanakah hati akan cemerlang bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati" demikian ujar Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab Hikamnya.
Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat, lihatlah di bidang apa saja hati ini menjadi resah. Bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rizki, berani tidak jujur demi sepeser dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia, itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusyu’, bekal akhirat yang belum banyak, akhlak yang masih buruk, itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.
Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi karena kita mencari penghidupan jasmani disini dan mempersiapkan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama bagi ruh kita gemerlap dunia material ini adalah racun yang mematikan.
Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat-tempat yang paling menjijikkan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi. Tetapi kita tidak pernah mendengar bahwa ada lalat yang terserang typhus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuan lalat memiliki kebiasaan yang unik, yaitu kebiasaan membarsihkan diri. Setiap hinggap di suatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya. Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, ia membersihkan pula kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya, mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya setelah itu barulah dengan pompa penyerap ia masukkan ke kerongkongannya.
Subhanallah! Luar biasa, inilah seni kehidupan spiritual, kita haris mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang sistem kekebalan spiritual. Agama telah memberikan kita formula anti virus itu. Formulanya adalah: makan makanan yang halal, menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktivitas demi menegakkan shalat, peduli dengan kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat, bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian dan ketauhidan yang kokoh yaitu segala sesuatu berada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala.
Ada satu kalimat ringkas yang dapat mencakup hal ini yaitu; “tubuh bergaul dengan makhluk sedang hati bergaul dengan khalik.” Memang tidak mudah.
Dari ceramah Ustadz Abdul Hakim ‘Tim asatidz Pesantren Daarut Tauhiid
Aku yang mula rebah
mencari-cari nafas
siapa yang dipanggil khalifah
dalam diriku.
Aku yang mula tewas
sengaja melupakan setiap hikmah
dan bayu dingin yang menyapa ketenangan jiwa
tatkala cinta Tuhanku membugar.
Aku yang kononnya tegar
hanya seorang pacar
membelangkasi kehinaan dan onar
menyenangi kejahatan dan makar.
Aku yang mula rebah
Tahu jalan kembali bangkit
Tahu jalan kembali segar
Adakah aku mahu?
"Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya ?..." (As-Sajdah: 22)
shazlee shah azeman
kosas
18 Disember 2009
Oleh: K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)
Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang, baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. ''... jika berselisih tentang sesuatu, hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir... (Qs 4:59).
Penyebutan Iman kepada Allah dan hari akhir, efektif bagi mereka yang percaya kepada Allah, Pencipta segala sesuatu dari tiada dan percaya kepada hari akhir, saat tidak ada waktu undur, tidak ada lagi sogok dan suap. Tidak ada lagi press release pemulas citra buruk. ''Hari ini Kami tutup mulut mereka, dan yang berbicara kepada Kami adalah tangan-tangan mereka dan yang bersaksi adalah kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65). Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga moral-spiritual.
Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai di akhirat nanti.
Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).
Demikianlah para rasul dan para pengikut tidak merasakan kepedihan dalam perjuangan. Kalau wajah seorang Yusuf AS, remaja yang tampan, telah membuat perempuan-perempuan di Mesir mengiris-iris jari-jari mereka tanpa sadar, betapa keindahan surga dan kepastian janji Allah telah membuat para pejuang di jalan-Nya sama sekali tidak merasa rugi, kalah atau sia-sia. Sebaliknya, mereka yang menzalimi diri sendiri atau sesama harus segera ingat bahwa ada batas usia bagi kehidupan dan ada persidangan yang adil. Sesudah itu kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.
Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ''... pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah'' adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ''Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan... (Qs 24:37)
Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
'Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah ....'' (QS 9:18). Penyiksaan terhadap keluarga Yasir RA sangat brutal, khususnya pembunuhan Sumayah, istri Yasir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan berharap. Keluarlah kata bersayap Rasulullah, ''Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat kalian berjumpa (esok) di surga.''
Sangat menyentuh dan membuat gairah takwa saat membaca atau mendengar ayat-ayat Hari Akhir, ''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.'' (Addzariyat: 14-19).
