Jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yg tekun
sedang cinta adalah putera dari keserasian jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta
dalam hitungan tahun,bahkan sepanjang usia dunia.
Namun,
keserarasian jiwa memang tak selalu sama rumusnya.
ada dua sungai besar yang bertemu,
dan bermuara di laut yang satu,
ini kesamaan.
ada panas dan dingin bertemu,
untuk mencapai kehangatan,
ini keseimbangan.
ada hujan lebat yang turun
berjumpa tanah subur,
lalu menumbuhkan taman,
kebun subur yang indah dan terus berbuah;
maka ini keberkahan.
Biar apa pun,
rumusnya keserasian jiwa itu,
ada satu hal yang tetap sama.
mereka serasi kerana mereka bertasbih memuji Allah,
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi,
terus ruku' dan sujud pada keagunganNya.
“Kaifa yasyruqu qolbun suwarul akwan munthabi’atun fii miratihi”
"Bagaimanakah hati akan cemerlang bila gemerlap duniawi terpatri di dinding hati" demikian ujar Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab Hikamnya.
Tidak sulit untuk mengetahui apakah dinding hati kita dipenuhi gemerlap dunia atau persiapan untuk akhirat, lihatlah di bidang apa saja hati ini menjadi resah. Bila hati resah karena kehilangan harta, takut tidak kebagian rizki, berani tidak jujur demi sepeser dua peser uang, melanggar aturan agama demi dunia, itu berarti dinding hati kita tidak sekedar dipenuhi gemerlap duniawi tetapi sudah menjadi tawanan dunia. Tapi bila keresahan kita pada shalat yang belum khusyu’, bekal akhirat yang belum banyak, akhlak yang masih buruk, itu pertanda hati kita berisi persiapan akhirat.
Memang mustahil untuk tidak terlibat urusan-urusan duniawi karena kita mencari penghidupan jasmani disini dan mempersiapkan bekal akhirat disini pula. Namun disaat yang sama bagi ruh kita gemerlap dunia material ini adalah racun yang mematikan.
Disinilah kita harus belajar dari lalat. Lalat mencari penghidupan di tempat-tempat yang paling menjijikkan. Sampah yang sudah membusuk, daging yang sudah menjadi bangkai, nasi yang sudah basi. Tetapi kita tidak pernah mendengar bahwa ada lalat yang terserang typhus atau disentri. Mengapa? Menurut ilmuan lalat memiliki kebiasaan yang unik, yaitu kebiasaan membarsihkan diri. Setiap hinggap di suatu tempat, lalat senantiasa membersihkan tangan dan kakinya. Setelah tangan dan kakinya benar-benar bersih, ia membersihkan pula kepala dan sayapnya. Untuk makan lalat tidak langsung melahap makanan itu tetapi ia menuangkan cairan khusus pada makanan dengan belalainya, mengubah kekentalan makanan agar cocok dengan keadaan tubuhnya setelah itu barulah dengan pompa penyerap ia masukkan ke kerongkongannya.
Subhanallah! Luar biasa, inilah seni kehidupan spiritual, kita haris mampu memagari diri dari racun-racun dunia dengan memasang sistem kekebalan spiritual. Agama telah memberikan kita formula anti virus itu. Formulanya adalah: makan makanan yang halal, menjadikan kerja sebagai ibadah, hidupkan hati dengan dzikrullah, hentikan aktivitas demi menegakkan shalat, peduli dengan kesusahan orang lain dengan cara membayar zakat, bersyukur ketika mendapatkan, bersabar ketika kehilangan, tawakal dalam ketidakpastian dan ketauhidan yang kokoh yaitu segala sesuatu berada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala.
Ada satu kalimat ringkas yang dapat mencakup hal ini yaitu; “tubuh bergaul dengan makhluk sedang hati bergaul dengan khalik.” Memang tidak mudah.
Dari ceramah Ustadz Abdul Hakim ‘Tim asatidz Pesantren Daarut Tauhiid
Aku yang mula rebah
mencari-cari nafas
siapa yang dipanggil khalifah
dalam diriku.
Aku yang mula tewas
sengaja melupakan setiap hikmah
dan bayu dingin yang menyapa ketenangan jiwa
tatkala cinta Tuhanku membugar.
Aku yang kononnya tegar
hanya seorang pacar
membelangkasi kehinaan dan onar
menyenangi kejahatan dan makar.
Aku yang mula rebah
Tahu jalan kembali bangkit
Tahu jalan kembali segar
Adakah aku mahu?
"Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya ?..." (As-Sajdah: 22)
shazlee shah azeman
kosas
18 Disember 2009
Oleh: K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)
Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang, baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. ''... jika berselisih tentang sesuatu, hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir... (Qs 4:59).
Penyebutan Iman kepada Allah dan hari akhir, efektif bagi mereka yang percaya kepada Allah, Pencipta segala sesuatu dari tiada dan percaya kepada hari akhir, saat tidak ada waktu undur, tidak ada lagi sogok dan suap. Tidak ada lagi press release pemulas citra buruk. ''Hari ini Kami tutup mulut mereka, dan yang berbicara kepada Kami adalah tangan-tangan mereka dan yang bersaksi adalah kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65). Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga moral-spiritual.
Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai di akhirat nanti.
Dengan iman terhadap hari akhir, seorang pejuang tidak kenal putus asa. Apa dan berapa saja pengorbanan di jalan Allah, ia sangat yakin akan catatan dan ganjarannya. Bahkan, Alquran melarang mengatakan mujahid yang syahid di jalan Allah sebagai mati karena mereka memang hidup (QS 2:154/ 3:169).
Demikianlah para rasul dan para pengikut tidak merasakan kepedihan dalam perjuangan. Kalau wajah seorang Yusuf AS, remaja yang tampan, telah membuat perempuan-perempuan di Mesir mengiris-iris jari-jari mereka tanpa sadar, betapa keindahan surga dan kepastian janji Allah telah membuat para pejuang di jalan-Nya sama sekali tidak merasa rugi, kalah atau sia-sia. Sebaliknya, mereka yang menzalimi diri sendiri atau sesama harus segera ingat bahwa ada batas usia bagi kehidupan dan ada persidangan yang adil. Sesudah itu kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.
Iman terhadap hari akhir menyuburkan sikap tanggung jawab. Mereka yang dipuji-Nya sebagai orang-orang yang ''... pagi dan petang bertasbih di rumah-rumah Allah'' adalah orang-orang yang tidak terlalaikan oleh aktivitas perdagangan dan jual beli, dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan shalat, ''Karena mereka takut akan hari saat berguncang-guncangnya hati dan penglihatan... (Qs 24:37)
Iman ini juga menghasilkan, memelihara, dan meningkatkan keikhlasan, keteguhan, dan semangat juang. Keberanian, kesungguhan dan optimisme adalah ciri khas mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
'Sesungguhnya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah ....'' (QS 9:18). Penyiksaan terhadap keluarga Yasir RA sangat brutal, khususnya pembunuhan Sumayah, istri Yasir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdoa dan berharap. Keluarlah kata bersayap Rasulullah, ''Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat kalian berjumpa (esok) di surga.''
Sangat menyentuh dan membuat gairah takwa saat membaca atau mendengar ayat-ayat Hari Akhir, ''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.'' (Addzariyat: 14-19).

Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam.
Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar, rezeki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) – dalam erti kata lain jaga daripada tidur. Disini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat diawal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.
Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman. Warna kuning ini mempunyai rahsia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya.
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, iaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif. Rahsia warna oren ialah kreativiti. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur la tu…). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita.
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la.) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita. Rahsia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.
Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan. Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.
Begitulah secara ringkas perkaitan waktu solat dengan warna alam. Manusia kini sememangnya telah sedar akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh.
Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur kerana telah di’kurniakan’ syariat solat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini.
Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahawa Allah s.w.t mewajibkan solat ke atas hambanya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta kerana Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukannya.
Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia yang amat cuai dalam menjaga solatnya. Semua yang terdapat di alam ini adalah untuk manfaat segala makhlukNya.
Wallahu'alam

