Buat diriku..dan dirimu..
6:02 PM | Author: Ibnu Siddique

Buat diriku dan dirimu..

Ku aturkan bicara indah ini..

untuk renungan kita bersama..


“Seonggok kemanusiaan terkapar

siapa yang mengaku bertanggung jawab?

bila semua pihak menghindar

biarlah saya yang menanggungnya

semua

atau sebagiannya”


"Merendahlah,

engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi


Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya rendah-hina"


-KH Rahmat Abdullah


Sahabat

Bumi kita bumi payah

Peluh, air mata dan mungkin juga darah

Ketika ku turunkan tapakku ke pepasir

Kau turutilah belakangku sebagai pejuang

Tika kukatakan padamu “perjuangan itu pahit”

Kau sahutlah panggilanku, “Syurga itu MANIS!”


~


“Aku ingin mencintaimu

Dengan cara yang sederhana

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu

Dengan cara yang sederhana

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”


-Sapardi Djoko Damono-



“Ibu adalah madrasah

Bila engkau persiapkan dengan baik

Maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat

Ibu laksana taman

Bila kau pelihara tamannya dengan siraman yang cukup

Maka akan tumbuhlah dengan subur dan rendang”

-al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi-



"Sungguh..daku memiliki jiwa perindu...

Setiap kali ia sampai pada satu tingkat..

setiap kali itu pula ia merindukan tingkat yang lebih tinggi.

Dahulu..

daku merindukan keKhalifahan..

maka daku mendapatkannya..

dan..kini..

jiwa ini merindukan SYURGA.."


Khalifah Umar Abdul Aziz

Sang Khalifah Ar-Rasyidin ke 5


“Kalau butir-butir korma ini harus kutelan semua baru maju berperang…

oh betapa jauh sungguh jarak antara aku dengan surga.”


"Bila jiwa itu besar, raga akan lelah mengikuti kehendaknya."

~ibnu siddique~


p/s:owh..inilah akibatnya tiada thumblr..luahan rasa..

semua di coretkan di blog sahaja (^_^)V

Kerna Satu Kata
1:03 PM | Author: Ibnu Siddique
Terkadang;
Kerna Satu Kata,
Ia bisa merubah rasa.

Dari suka kepada tidak suka,
dari ceria kepada gundah gulana,
dari benci kepada cinta,
dari rindu kepada dendam,
dari rajuk kepada marah,
dari cinta kepada tidak cinta.

Kerna,
Kata adalah susunan bicara.
Yang bisa memberikan kita dan dia,
Sengsara atau bahagia.
Juga,
Yang bisa mengantarkan kita,
Ke Syurga atau Neraka,

Kerna kata;
ramai sahabat yang bersengketa,
kerna kata,
ramai yang putus dan jatuh cinta.

Kerna,
Kata adalah luahan hati,
Bicara isi hati yang tersembunyi,
Di balik topeng manusiawi.



Hadis Atsar:

Umar bin Alkhaththab r.a. melihat pemuda maka ia berkata: "Hai pemuda, jika engkau menjaga bahaya tiga macam maka engkau terhindar dari bahaya kepemudaanmu (remaja) iaitu: "In wuqita syarra laglaqika wadzab dzabika wa qabqabika.
maksudnya
"Jika engkau menjaga bahaya lidahmu dan kemaluanmu dan perutmu."


"Ya Rabbi, tundukkanlah untukku huruf-huruf, hingga mereka berbaris merangkaikan makna, menyusunkan kebesaranMu di hati manusia.


Ya Rabbi, tundukkanlah untukku kata-kata, hingga mereka berirama merdu melantunkan kebenaran, menyanyikan keagunganMu dalam jiwa.


Ya Rabbi, tundukkan untukku kalimat-kalimat, hingga bersambung memberi arti, menggerakkan 'amal shalih, menegakkan sikap taqwa, menegaskan rasa nikmat dalam taat."


Ibnu Siddique,
menjelang Fajar,
10 Feb 2010.
Sungguh,daku belum benar-benar berIman.
10:16 AM | Author: Ibnu Siddique

Tatkala Arab Badwi itu dtg bertemu dgn Ar-Rasul,dan menyatakan bahwa mrk sudah berIman,maka jawapannya lgsg dari Allah."Kamu belum berIman,ttp katakanlh kami telah Islam".Sungguh,setiap Muslim belum tentu Mukmin,ttp setiap Mukmin pasti adalah Muslim.kerna persoalan Iman,bukan atas sangkaan,angan-angan dan rasa-rasa kita sendiri,ttp Iman itu perlu di usahakan hingga menancap keyakinan dlm hati dan di benarkan dgn amal.


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.
Iaitu orang-orang yang mendirikan sembahyang dan yang mendermakan sebahagian dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka.Merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan mendapat pangkat-pangkat yang tinggi di sisi Tuhan mereka dan keampunan serta limpah kurnia yang mulia (di Syurga).
(Al-Anfal:3-4)


Iman adlh anugerah termahal dan terindah dalam kehidupan bagi mereka yg mengerti.Mempertahankannya dalam tiap detik tidaklah mudah.Spt detik2 Yusuf AlaihiSalam,terkunci rapat dlm pintu2 besi yg tebal,lalu Zulaikha,si cantik jelita menggoda.Tapi,kerna Iman penjaralah yg lebih dicintainya.Hanya sekian detik,tapi Allah membanggakannya sepanjang zaman dengan paparan indah sebuah surah Yusuf AS atas perjuangan baginda memenangkan Iman ke atas nafsunya.


Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya, bersungguh-sungguh memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya; dan perempuan itupun menutup pintu-pintu serta berkata: "Marilah ke mari, aku bersedia untukmu". Yusuf menjawab: "Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu); sesungguhnya Tuhanku telah memuliharaku dengan sebaik-baiknya; sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan berjaya".
(Yusuf:23)

Segalanya Hanya Untuk Allah .
11:07 AM | Author: Ibnu Siddique

Bimillahirrahmanirrahim.

Allahumma Sholli A'la Muhamaad wa a'la aallihi Muhammad.

Assalamualaikum wrt.

Saya sudah diminta untuk merenungkan apa yang sedang saya lakukan setiap saat. Tanggung jawab ini memberikan kehormatan kepada saya. Kehormatan dari Allah,untuk saya membuat pilihan antara syurga dan neraka.Antara pahala dan dosa.Saya harus tahu apa yang saya lakukan dan untuk siapa atau untuk apa saya bergerak, berlari atau bertanya tentang sesuatu.

Saya harus sedar dan sentiasa merenungi. Apa tujuan atau sasaran dari kehidupan saya? Adakah hidup saya sekadar untuk memenuhi ruang kosong di perut saya?adakah keberadaan saya di universiti sekadar utk meraih sehelai kertas yg di beri nama ijazah?adakah makna dari kehidupan saya adalah untuk mencari pekerjaan yang gah,meraih kehidupan yang mewah,rumah yg indah,kereta yang gah,dan isteri yang 'wah'.Tidakkah saya mengimani bahawa dunia ini adalah palsu dan akan lenyap. Semua ini hanya sementara dan karenanya tidak bernilai. Tetapi apa yang saya lakukan untuk Allah swt itu tidak akan berakhir.

Bila saya duduk, maka istirahat saya pun harusnya untuk Allah swt. Saya bergerak atau tidak, semuanya untuk Allah swt. Dan saya harus sentiasa berserah diri pada Allah setelah saya bersegera dan bersungguh-sungguh mengerjakan perintah-Nya.

Tanggung jawab itu dimulai sejak saya terjaga. Hendaklah saya melihat untuk apa dan siapa saya kerjakan dan apa manfaatnya. Bila tidak bermanfaat untuk diri saya sendiri atau untuk orang lain, tinggalkan niat itu, karena saat itu akan mengundang kutukan atas diri saya.

Segalanya hanya untuk Allah swt. Dan semua yang saya lakukan,mestilah untuk Allah SWT. Semua yang menjadi milik Allah swt pastilah untuk Allah swt. Itulah Iman sejati dan saya telah ditawarkan untuk memegang teguh peraturan itu. Karena saya tahu bahwa semuanya untuk Allah swt, maka saya harus melakukan segalanya untuk Allah swt semata. Bila hidup, hiduplah untuk Allah swt, kelak,bila mati,matilah untuk Allah swt, tatkala makan,makanlah kerana Allah. Bila minum, minumlah kerana Allah; bila membangun, lakukanlah untuk Allah SWT.

Kalau bicara, bicaralah saya untuk Allah. Bila menulis, tulislah kerana Allah.Sehingga semuanya akan menjadi ibadah. Bila setiap tindakan dan setiap saat diperuntukkan untuk Allah, maka Allah akan mengusung dan mendukung hamba tersebut. Karena dia hidup untuk Allah dan melakukan semuanya untuk Allah, maka Allah pastilah mendukungnya.


Jika saya menjadi manusia yang diamnya,geraknya,bicaranya, bukan untuk Allah SWT, maka ibaratnya saya bagai daun berguguran dari pohonnya. Tidak lagi bermanfaat bagi pohon induknya. Hanya bagi diri saya sendiri. Tidak pernah mengindahkan Asma’ Allah atau melakukan sesuatu untuk Pencipta saya. Terhimbau oleh dunia. Hidup hanya mengejar materi,materi dan sosialisasi. Tidak pernah memikirkan kehidupan spiritual. Sedangkan,saya harus mengelola kehidupan spiritual selama 24 jam sehari, tetapi saya tidak memikirkannya walaupun hanya 24 detik.

Segalanya untuk Allah dan saya juga untuk Allah, semoga saya lakukan semuanya untuk Allah. Allah melihat niat saya dan bila ditujukan untuk-Nya, saya tidak akan ditinggalkan oleh-Nya dalam genggaman Setan.Sekali-kali Tidak! Saya yakin,bahawa Allah akan menjaga dan mendukung saya. Allah melihat ke dalam hati saya dan bila Dia melihat saya mengabdi pada ego saya atau hasrat fisik saya, Dia akan menghentikan dukungan-Nya. Dia akan melihat apakah saya tetap mengikuti jalan dan perintah-Nya; bila tidak, Dia akan meninggalkan saya sebentar, semoga saya akan kembali pada jalan yang benar.

Bila beramal untuk Allah, maka semua yang di kerjakan akan diberkahi, dihormati dan diterima oleh-Nya. Bila pekerjaan bukan untuk-Nya, maka sia-sialah pekerjaan itu dan saya menghancurkan diri sendiri. Kesukaran yang tidak terhitung akan mengelilingi diri. Saya harus sentiasa memerhatikan selalu pekerjaan saya, apakah benar-benar untuk Allah? Saya harus Perhatikan berapa jam tersedia untuk-Nya, berapa lama dalam seharian saya berhubungan dengan Hadirat Ilahi dan berapa jam saya bersama ego dan nafsu saya.

Bila saya makan, minum, bekerja, shalat, pokoknya setiap waktu hendaklah saya bersama Allah. Ini akan membuat saya kuat, bahagia dan hidup akan terasa manis. Allah menganugerahkan hidup yang sebenar-benar hidup, yang indah dan nyaman bagi orang beriman, bukannya hidup yang sulit dan hambar. Yang demikian itu adalah untuk mereka yang tidak beriman atau mereka yang berbuat ingkar.

Wahai diri..Hiduplah dengan sentiasa menyediakan diri untuk Allah. Matilah untuk Allah. Hanya itu. Biarkan mereka,para penyembah dunia, merenggut seluruh dunia. Mereka hanya ingin hal-hal duniawi, makan dan minum saja. Jangan! Kenikmatan itu datangnya dari Allah dan hati kita menantikan berkah-Nya yang tak terhingga.

Bekerjalah untuk Allah dan taat kepada-Nya, semoga Dia akan menyelubungi saya dengan Cahaya Ilahiah. Setelahnya, saya harus melindungi dan mempertahan kannya. Saya harus mengorbankan hasrat fisik saya agar kekuatan spiritual dengan cepat dan mudah mencapai jiwa saya.

Saya tidak harus dan tidak boleh kehilangan kepercayaan pada Pencipta saya yang berfirman, Akulah penjamin makan dan minum kalian. Dan bila kalian menyediakan diri kalian untuk-Ku, Aku akan memudahkan segalanya untuk kalian. Bila kalian percaya pada-Ku, Aku tidak akan membuat kalian lelah.Saya harus sentiasa yakin dlm hal ini,dan semoga ini akan memberikan rasa puas dalam diri saya. Tak usah ada yang lain. Saya harus persembahkan hidup saya sebagai sebuah penghambaan total,dari sang hamba yang lemah lagi tidak berdaya, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Saya harus hidup untuk Allah dan meyakini bahwa Allah saja lebih dari cukup. Saya harus percaya dan mempercayai Allah dan mencoba untuk menyediakan diri untuk penghambaan kpd Ilahi. Saya harus berpegang pada jalan ini, jalan yang di tunjuki baginda Rasulullah,jalan Al-Quran dan As-Sunnah.

Saya harus mencari kehormatan dari Allah dan bukan dari yang lain.Walaupun saya menginfaqkan sebuah masjid,atau sebuah gedung harta untuk Ummat Islam.tetapi bukan untuk kehormatan Allah dan untuk kehormatan Rasulullah saw,nescaya pasti akan runtuh dan tiada maknanya di sisi Allah. Setiap hari saya harus berbuat sesuatu untuk Allah. Saya harus Ketahui hak-hak-Nya, belajar untuk-Nya dan bukan untuk yang lain.


Dengan izinNya,saya dapat melakukan apa saja, tetapi saya harus berusaha dan terus berusaha melakukannya hanya karena Allah semata. Saya mesti lakukan sesuatu yang akan membuat Allah ridha pada saya. Bila tidak, saya akan tenggelam dalam samudera yang demikian dalam,yang teramat gelap. sehingga tak seorang pun dapat menyelamatkan saya.

Cara hidup saya akan menjadi cara mati saya dan kemudian akan menjadi cara saya dibangkitkan kembali. Hiduplah untuk Allah. Mereka yang mematuhi perkataan Nabi saw berarti mematuhi perintah Allah swt. Hiduplah untuk-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang harus ditakuti.

Saya ingin menyerahkan seluruh hidup saya untuk Islam dan perjuangan Islam saya itu untuk Allah. Bukan untuk Jemaah,nama,pangkat,Negara,dan harta.Jika saya melangkah, biar langkah saya itu untuk Allah. Bila saya mendakwahi manusia kepada Islam. Saya harus memperhatikan ke mana saya menyeru dan apa yang saya cari di balik seruan itu. Apakah saya mencari Allah atau nafsu sendiri? Bila saya hulurkan tangan dan membina seseorang, saya harus perhatikan untuk siapa saya membawa dia,kepada siapa saya menyeru dirinya.Untuk Allah atau untuk kepentingan saya? Atau untuk jemaah saya?

Bila saya berbicara, untuk siapa saya bicara, untuk Allah atau untuk ego saya? Dan bila saya duduk,berfikir,dan berhalaqah untuk siapa? Tidur saya, untuk siapa? makan saya,untuk kekuatan saya atau atas perintah Allah?Saya harus menjadikan setiap saat di setiap hari saya, setiap tarikan nafas saya adalah untuk Allah.

Saya tidak boleh merasa sendirian. Pada setiap tarikan nafas, saya harus sedar,bahawa saya berada bersama siapa.Pada setiap degup jantung saya,saya bersama siapa sesungguhnya? Bukankan Allah,pencipta dan pemilik saya,sgt dekat,bahkan lebih dekat dari urat nadi saya.Semoga saya sentiasa meyakini hal yang demikian ini. Hal yang merupakan peringatan bagi saya. Bila saya tidak lupa, maka setiap saat adalah peribadatan kepada Allah atau suatu pengabdian untuk Hadirat-Nya. Setiap saat, setiap tarikan nafas saya mengabdi, meraih Hadirat-Nya yang suci dan semoga nama saya akan tercatat sebagai hamba Ilahi.

Hidup hanya sekali,dan saya tidak akan pernah sekali-kali menyia-nyiakan hidup saya!


Olahan dari Nasihat seorang Ulama’ kpd anak muridnya.

Mencintai Sejantan ‘Ali
9:16 AM | Author: Ibnu Siddique

Petikan karya Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!


Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.


”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..


Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.


Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Kerna Aku Cinta..
8:18 AM | Author: Ibnu Siddique
Jadikan cintaku padaMu, Ya Allah
Berhenti di titik ketaatan
Meloncati rasa suka dan tak suka

Karena aku tahu,
mentaatimu dalam hal yang tak kusukai
Adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala
Karena seringkali ketidaksukaanku,
hanyalah bagian dari ketidaktahuanku
Jalan Cinta Para Pejuang
8:13 AM | Author: Ibnu Siddique
Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”

“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis

“Ya. Untuk Julaibib.”

“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

***

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.

Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!

***

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para sahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..

dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib-


Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang tulisan Salim A. Fillah *